Media Pendidikan – 06 Juni 2026 | Pernahkah kalian merasa kosong di tengah keramaian, atau ketika melakukan aktivitas yang biasanya membuat bahagia, tapi tidak merasakan apa-apa? Nah, ternyata dalam psikologi ada istilah ilmiahnya, yaitu mati rasa emosional.
Mengenal Lebih Jauh Istilah Emotional Numbness
Tanda-Tanda yang Mungkin Sering Kamu Abaikan
- Merasa biasa saja terhadap peristiwa yang seharusnya sedih atau bahagia
- Kehilangan minat terhadap hobi, olahraga, hingga interaksi dengan orang lain
- Merasa terisolasi, kesepian, dan cenderung menutup diri, meskipun berada di lingkaran pertemanan
- Sulit untuk menguraikan perasaan yang dirasakan kepada orang terdekat dan tertutup saat diajak bicara
- Selalu dalam mode otomatis, melakukan segala sesuatu tanpa rasa
Spektrum Mati Rasa: Kapan Kamu Harus Khawatir?
Nah, tidak semua mati rasa emosional merupakan tanda bahaya. Ada beberapa spektrum dari yang normal hingga bahaya yang perlu kamu pahami lebih lanjut.
Mati rasa dapat dikatakan normal ketika terjadi sementara, seperti rasa hampa setelah hari yang berat atau pasca-kehilangan orang tersayang yang menjadi bagian proses berduka yang sehat.
Mati rasa yang perlu diperhatikan, biasanya mati rasa kronis yang sudah berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Selain itu, mati rasa ini sudah mengganggu aktivitas bersosialisasi dengan orang lain dan tidak mampu menikmati hidup dengan baik.
Mengapa Hal Ini Terjadi Pada Seseorang?
1. Trauma dan Kehilangan
Secara biologis, otak kita akan merespons kehilangan sesuatu yang sangat besar seperti halnya kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan penting, atau kegagalan yang menghancurkan. Mereka menggunakan cara yang sama seperti merespons ancaman fisik, yaitu shut down.
Ketika seseorang mengalami kondisi stres berkepanjangan akibat beban tugas, konflik keluarga, serta tuntutan yang tidak pernah berhenti, sistem regulasi emosi dapat mencapai titik jenuhnya. Pada saat itulah mati rasa hadir bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai bentuk pertahanan biologis.
Jalan Kembali: Langkah-langkah yang Bisa Kamu Lakukan
- Menerima dan menyadari kondisi. Langkah awal ini penting karena kita harus mengakui bahwa ‘aku tidak lagi merasakan apa-apa’ dan membiarkan kalimat itu terucap apa adanya.
- Mencari dukungan sosial. Mulai mencoba untuk berbicara dengan orang terdekat yang dipercaya, seperti keluarga, teman, atau pasangan.
- Pola hidup sehat. Meskipun kita memiliki beban tugas yang banyak, pikiran yang rumit, dan tuntutan sosial yang tidak kunjung berhenti, kita harus tetap menjaga pola hidup sehat seperti olahraga, tidur yang cukup, dan jurnaling.
- Terapi atau intervensi dengan profesional. Jika kondisi ini berlangsung cukup lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka cobalah untuk berbicara dengan psikolog atau psikiater profesional.


Komentar