Media Pendidikan – 22 Mei 2026 | Kampus tidak lagi menjadi ruang hidup di mana manusia bertumbuh sebelum dijadikan “produk siap kerja.” Dilan duduk di kantin kampus, berbincang santai, menulis, lalu tertawa bersama kawan-kawannya. Tidak ada kepanikan tentang sertifikasi, deadline magang, atau ketakutan menjadi pengangguran setelah wisuda.
Namun, pertanyaan sederhana sekaligus mengusik kemapanan kita: masihkah kampus tanah air hari ini mampu melahirkan sosok seperti Dilan? Jawabannya mungkin tidak nyaman. Karena jika Dilan hidup di zaman sekarang, besar kemungkinan ia justru dianggap sebagai mahasiswa bermasalah.
Terlalu santai. Kurang Kompetitif. Tidak agresif membangun personal branding. Bahkan mungkin akan dicap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Di sini, film Dilan ITB 1997 menjadi menarik karena ia menghadirkan kampus bukan sebagai mesin produksi, melainkan sebagai ruang hidup.
Ada perubahan besar yang jarang disadari dalam dunia pendidikan tinggi kita: kampus tidak lagi menjual ilmu, tetapi menjual rasa aman. Mahasiswa masuk universitas bukan lagi untuk mencari pengetahuan, melainkan membeli harapan agar tidak menganggur. Orang tua tidak lagi bertanya, “Apa yang ingin kamu pelajari?” Mereka bertanya, “Jurusan apa yang cepat dapat kerja?”
Universitas perlahan berubah fungsi. Ia tidak lagi diperlakukan sebagai ruang intelektual, tetapi sebagai pabrik legitimasi ekonomi. IPK menjadi mata uang. Sertifikat menjadi komoditas. Organisasi kampus berubah menjadi portofolio LinkedIn. Bahkan magang yang dulu dimaksudkan sebagai proses belajar kini berubah menjadi perlombaan mencari validasi industri.
Ironisnya, semua itu dilakukan dalam suasana ketakutan kolektif. Takut tertinggal. Takut tidak relevan. Takut tidak diterima pasar kerja. Dan ketakutan itu dipelihara terus-menerus oleh sistem.
“Kampus sibuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja, tetapi lupa mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan. Mereka dilatih menjadi kompetitif, tetapi tidak diajarkan memahami kecemasan. Mereka diajarkan menjadi adaptif, tetapi tidak diajarkan berpikir kritis terhadap sistem yang memaksa mereka terus beradaptasi.”
Masalah terbesar pendidikan tinggi tanah air sebenarnya bukan soal kurikulum, bukan soal akreditasi, bahkan bukan soal pengangguran. Masalah terbesarnya adalah hilangnya imajinasi tentang tujuan pendidikan itu sendiri. Kampus tidak lagi membayangkan manusia seperti apa yang ingin dibentuk.


Komentar