Media Pendidikan – 19 April 2026 | Bandung kembali menjadi sorotan ketika Hotel Savoy Homann mengungkap jejak Konferensi Asia‑Afrika (KAA) 1955 yang masih terjaga hingga kini. Selama empat hari pada 18‑21 September 1955, hotel bersejarah ini menjadi tempat menginap para pemimpin dunia, termasuk Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai. Kini, kamar-kamar yang mereka tinggali masih dapat dihuni, menjadi saksi bisu pertemuan penting yang mengukir sejarah Indonesia.
Konferensi Asia‑Afrika 1955, yang diadakan di Gedung Merdeka, Bandung, mempertemukan 29 delegasi dari negara‑negara di kedua benua. Hotel Savoy Homann, yang dibangun pada era kolonial Belanda, dipilih sebagai akomodasi utama karena lokasinya yang strategis di Jalan Braga dan fasilitas mewahnya. Kamar Soekarno, yang terletak di lantai atas, dilengkapi dengan perabotan klasik bergaya Art Deco, sementara Zhou Enlai menempati suite dengan pemandangan taman hotel yang asri.
Setelah puluhan tahun, pihak pengelola hotel melakukan restorasi menyeluruh tanpa mengubah karakter asli ruangan. “Kamar ini menjadi saksi bisu pertemuan penting antara bangsa‑bangsa yang sedang mencari identitas pasca‑kolonial,” ujar Kepala Departemen Sejarah Hotel Savoy Homann, Dr. Ahmad Rizal, saat tur media pada bulan April 2024. Restorasi mencakup pemulihan wallpaper asli, lampu gantung kristal, serta perabotan yang pernah dipakai oleh para delegasi.
Data arsip hotel mencatat bahwa selama KAA, sebanyak 120 kamar dipakai oleh delegasi resmi, sementara 30 kamar khusus dialokasikan untuk tamu istimewa seperti Soekarno dan Zhou Enlai. Setiap kamar dilengkapi dengan layanan pribadi, termasuk penerjemah, keamanan, dan penyediaan makanan khas sesuai permintaan. Menurut catatan, Soekarno menghabiskan malam pertamanya di Savoy sambil menyiapkan pidatonya yang kemudian menggugah semangat solidaritas Asia‑Afrika.
Kamar Soekarno kini terbuka bagi tamu yang ingin merasakan atmosfer sejarah. Pintu kayu berukir masih menampilkan tanda “Presiden” yang dipasang pada 1955, dan lemari kayu berisi buku‑buku catatan pribadi Presiden. Sementara suite Zhou Enlai menyimpan meja kerja dengan pena antik yang konon pernah dipakai saat menandatangani perjanjian kerjasama bilateral.
Hotel Savoy Homann menargetkan peningkatan kunjungan wisata sejarah hingga 15 % pada akhir tahun 2024, berkat program promosi paket “Jejak KAA 1955”. Paket ini mencakup tur kamar bersejarah, seminar singkat tentang dampak konferensi, dan makan malam tradisional Bandung. Penawaran ini diharapkan dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik pada warisan budaya Indonesia.
Keberlanjutan pelestarian kamar bersejarah ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah Bandung yang menambahkan Hotel Savoy Homann ke dalam daftar cagar budaya kota. Dengan status tersebut, setiap perubahan struktural harus melewati evaluasi ketat guna menjaga keaslian arsitektur era kolonial serta nilai historisnya.
Secara keseluruhan, Hotel Savoy Homann tidak hanya menjadi akomodasi bagi delegasi KAA 1955, melainkan juga menyimpan memori hidup yang dapat dirasakan oleh generasi kini. Keberadaan kamar Soekarno dan Zhou Enlai yang masih dapat dihuni menegaskan peran Bandung sebagai pusat diplomasi pada masa awal kemerdekaan, sekaligus menawarkan pengalaman edukatif bagi para wisatawan yang ingin menelusuri langkah-langkah penting dalam sejarah Asia‑Afrika.


Komentar