Media Pendidikan – 14 Mei 2026 | Indonesia sedang berusaha mencapai industrialisasi tingkat tiga, yaitu industri strategis masa depan seperti baterai kendaraan listrik, pemrosesan mineral kritis, energi hijau, dan industri digital. Negara ini berusaha menggunakan kekayaan sumber daya alam untuk memasuki rantai industri strategis abad ke-21.
Ilustrasi pembangunan industri di Indonesia. Foto: REUTERS/Maxim Shemetov
Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam arah pembangunan selama lebih dari satu dekade terakhir. Negara ini tidak lagi melihat sumber daya alam sebagai komoditas ekspor, tetapi sebagai modal untuk melakukan transformasi industri.
Benang merah itu terlihat jelas sejak era Susilo Bambang Yudhoyono, ketika larangan ekspor bahan mentah mulai diperkenalkan, lalu dipercepat secara agresif pada masa Joko Widodo melalui hilirisasi mineral, pembangunan smelter, kawasan industri, hingga ekosistem kendaraan listrik dan baterai. Kini, arah yang sama diteruskan pemerintahan Prabowo Subianto lewat proyek hilirisasi tahap lanjutan dan dorongan industrialisasi strategis.
Banyak orang melihat hilirisasi sekadar sebagai upaya menaikkan nilai tambah ekspor. Padahal, yang sedang dicoba Indonesia jauh lebih besar dari itu. Negara sedang berusaha menggunakan kekayaan sumber daya alam untuk masuk langsung ke rantai industri strategis abad ke-21.
Ilustrasi pembangunan industri di Indonesia. Foto: MIND ID
Indonesia mencoba langsung masuk ke industri strategis masa depan melalui keunggulan yang dimilikinya: sumber daya alam. Hari ini, Indonesia memasok lebih dari separuh produksi nikel olahan dunia dan menjadi salah satu pemain dominan dalam rantai pasok baterai global.
Secara strategis, langkah ini masuk akal. Jika terlambat memenangkan perlombaan manufaktur abad ke-20, Indonesia mencoba mengejar posisi dalam perlombaan industri abad ke-21.


Komentar