Ekonomi
Beranda » Berita » FOMO Saham AI dan Chip: Investor Muda Taiwan Rela Ngutang demi Cuan Jumbo

FOMO Saham AI dan Chip: Investor Muda Taiwan Rela Ngutang demi Cuan Jumbo

FOMO Saham AI dan Chip: Investor Muda Taiwan Rela Ngutang demi Cuan Jumbo
FOMO Saham AI dan Chip: Investor Muda Taiwan Rela Ngutang demi Cuan Jumbo

Media Pendidikan – 24 Juni 2026 | Fenomena fear of missing out (FOMO) tengah melanda pasar saham Taiwan. Banyak investor muda di negara tersebut bahkan rela berutang demi meraih cuan di tengah saham teknologi yang naik lebih dari 100 persen dalam setahun terakhir.

Demam kecerdasan buatan (AI) dan chip membuat remaja berbondong-bondong membuka rekening efek. Bahkan lonjakan transaksi sempat membuat situs perusahaan sekuritas tumbang, sementara pasar saham Taiwan melaju begitu cepat hingga dalam hitungan pekan berhasil menyalip Inggris, Kanada, dan India untuk menjadi pasar saham terbesar kelima di dunia.

Baca juga:

Salah satu investor yang terbawa gelombang FOMO itu adalah Andy Cheng, pria berusia 26 tahun yang sedang menganggur. Dengan tambahan dana pinjaman, ia kini memiliki saham teknologi Taiwan senilai USD 60.000. “Beli saham apa saja dan Anda akan menghasilkan uang,” kata Cheng.

Optimisme serupa juga dimiliki Albert Chen, mahasiswa hukum berusia 25 tahun. Ia menilai dominasi perusahaan teknologi di Taiwan membuat prospek pasar saham negara itu tetap menjanjikan. “Bahkan jika pasar turun selama sebulan penuh, saya tetap percaya diri. Fundamentalnya terlalu kuat. Taiwan memang luar biasa,” ungkapnya.

Baca juga:

Ekonom Mulai Ingatkan Risikonya seperti Era Dotcom. Di tengah optimisme tersebut, sejumlah ekonom mulai memperingatkan risiko terbentuknya gelembung di pasar saham Taiwan, terutama karena negara itu merupakan pusat industri chip dunia yang menjadi tulang punggung perkembangan AI.

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) bersama perusahaan-perusahaan pendukungnya memproduksi sekitar 90 persen chip paling canggih di dunia yang digunakan untuk smartphone, laptop, robot, hingga pusat data AI. Namun, jika pembangunan infrastruktur AI melambat, permintaan terhadap chip juga berpotensi melemah.

Baca juga:

“Pasar saham Taiwan jelas sudah terlalu panas,” kata Profesor ekonomi National Central University, Dachrahn Wu. Ia khawatir aksi jual besar-besaran dapat memicu kerugian yang menghancurkan bagi investor muda yang menganggap pasar saham sebagai cara mudah menghasilkan uang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *