Media Pendidikan – 01 Mei 2026 | Jakarta – Komite Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi paling berat kepada pemain sepakbola Fadly Alberto setelah insiden yang disebut sebagai aksi “kungfu” terhadap pemain Dewa United U‑20. Keputusan larangan bermain selama tiga tahun diumumkan pada hari Senin, menandai tindakan tegas federasi terhadap perilaku anti‑sportif.
Insiden terjadi pada pertandingan Liga U‑20 ketika Fadly Alberto, yang saat itu berada di lapangan, melakukan gerakan fisik berlebihan yang menyerupai seni bela diri tradisional, sehingga melukai pemain lawan. Aksi tersebut langsung memicu protes dari tim lawan dan mengundang intervensi wasit. Setelah peristiwa, Komite Disiplin PSSI menggelar rapat khusus untuk menilai bukti video dan laporan resmi.
Dalam rapat tersebut, Komite menyatakan, “Fadly Alberto mendapat sanksi dari Komite Disiplin PSSI” dan menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat ditoleransi dalam kompetisi resmi. Berdasarkan peraturan disiplin, pelanggaran berat dapat dikenakan larangan bermain selama tiga tahun, denda, serta pencabutan hak bermain di level nasional.
Keputusan ini berdampak signifikan pada karier Fadly Alberto. Sebagai pemain yang baru menembus tim senior, ia kini harus menghentikan aktivitas kompetitif hingga 2027. Klub tempat ia bernaung juga harus menyesuaikan strategi karena kehilangan salah satu pemain potensial selama periode tersebut.
Statistik PSSI mencatat bahwa sejak 2015, terdapat 12 kasus serupa yang berujung pada sanksi larangan bermain lebih dari satu tahun. Rata‑rata durasi sanksi dalam kasus tersebut adalah dua tahun, menjadikan keputusan tiga tahun ini salah satu yang terberat dalam sejarah disiplin sepakbola Indonesia.
Reaksi publik beragam. Sebagian pendukung mengapresiasi tegasnya PSSI, sementara yang lain mengkritik proses penyelidikan yang dianggap terlalu singkat. Di media sosial, hashtag #FadlyAlberto dan #PSSIDisiplin menjadi trending pada hari pengumuman.
Ke depan, Komite Disiplin PSSI menegaskan akan terus memantau perilaku pemain di semua tingkatan kompetisi, dengan harapan menurunkan angka insiden serupa. Sementara itu, Fadly Alberto diharapkan dapat memanfaatkan masa larangan untuk memperbaiki sikap dan kembali ke lapangan setelah masa sanksi berakhir.


Komentar