Sains & Teknologi
Beranda » Berita » El Nino 2026 Diprediksi Sekuat 1997, Ahli Peringatkan Ancaman Kebakaran Hutan Ekstrem di Riau

El Nino 2026 Diprediksi Sekuat 1997, Ahli Peringatkan Ancaman Kebakaran Hutan Ekstrem di Riau

El Nino 2026 Diprediksi Sekuat 1997, Ahli Peringatkan Ancaman Kebakaran Hutan Ekstrem di Riau
El Nino 2026 Diprediksi Sekuat 1997, Ahli Peringatkan Ancaman Kebakaran Hutan Ekstrem di Riau

Media Pendidikan – 04 April 2026 | Fenomena iklim global El Nino yang diproyeksikan akan mencapai puncaknya pada tahun 2026 diperkirakan memiliki intensitas sebanding dengan peristiwa El Nino 1997 yang terkenal mengakibatkan kekeringan meluas di Asia Tenggara. Analisis terbaru menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah akan mengalami anomali positif yang signifikan, menandakan kemungkinan terjadinya El Nino super pada periode tersebut.

Guru Besar IPB University sekaligus pakar forensik kebakaran hutan, Prof. Bambang Hero Saharjo, menegaskan bahwa kondisi ini dapat memicu potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sangat serius, terutama di provinsi Riau. Menurutnya, kombinasi antara curah hujan yang menurun drastis, suhu udara yang meningkat, serta kelembaban tanah yang rendah menciptakan lingkungan ideal bagi api untuk menyebar dengan cepat.

Baca juga:

Prof. Saharjo mengingatkan bahwa El Nino 1997 pernah menyebabkan kebakaran hutan meluas hingga menutupi wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Pada saat itu, asap tebal mengganggu aktivitas penerbangan, menurunkan kualitas udara, dan menimbulkan krisis kesehatan bagi jutaan penduduk. “Jika pola cuaca serupa terulang pada 2026, Riau berisiko menjadi titik fokus kebakaran yang meluas,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.

Riau, sebagai salah satu provinsi dengan konsentrasi hutan tropis yang luas dan lahan pertanian yang intensif, memang rentan terhadap kebakaran. Praktik pembukaan lahan dengan cara pembakaran, terutama pada musim tanam, memperparah risiko. Kondisi kering yang dipicu oleh El Nino dapat membuat vegetasi menjadi sangat mudah terbakar, bahkan tanpa adanya aktivitas pembakaran manusia sekalipun.

Berikut ini beberapa faktor kunci yang dapat memperparah ancaman karhutla di Riau pada 2026:

Baca juga:
  • Kekeringan ekstrem: Penurunan curah hujan diperkirakan mencapai 30-40% dibandingkan rata-rata musiman.
  • Suhu udara meningkat: Peningkatan suhu maksimum harian hingga 2-3°C dapat mempercepat pengeringan bahan bakar alami.
  • Kelembaban tanah rendah: Kelembaban relatif tanah di daerah perkebunan dapat turun di bawah 15%, menjadikan tanah mudah terbakar.
  • Praktik agrikultur: Pembukaan lahan dengan pembakaran masih menjadi metode yang umum, terutama pada lahan kelapa sawit dan karet.
  • Pengelolaan kebakaran yang lemah: Keterbatasan infrastruktur pemadam kebakaran dan kurangnya koordinasi lintas wilayah dapat memperlambat respons.

Untuk mengantisipasi skenario terburuk, Prof. Saharjo menyarankan langkah-langkah preventif yang meliputi peningkatan pengawasan satelit, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakaran ilegal, serta pengembangan sistem peringatan dini yang terintegrasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga penelitian, sektor swasta, dan masyarakat lokal. Penelitian ilmiah yang mendalam tentang pola curah hujan, perubahan iklim regional, serta adaptasi agrikultur dapat memberikan dasar kebijakan yang lebih tepat. Sektor swasta, terutama perusahaan perkebunan, diharapkan dapat mengimplementasikan teknologi pertanian ramah lingkungan, seperti penggunaan mulsa organik dan metode mekanis dalam membuka lahan.

Masyarakat juga berperan penting dalam pencegahan. Edukasi mengenai bahaya kebakaran, pelatihan pemadam kebakaran sukarela, serta pemberdayaan ekonomi alternatif dapat mengurangi ketergantungan pada metode pembakaran. “Kita tidak dapat menunggu sampai kebakaran melanda untuk kemudian bereaksi. Upaya pencegahan harus dimulai dari sekarang,” tegas Prof. Saharjo.

Baca juga:

Jika skenario El Nino 2026 terwujud, dampak ekonomi dan kesehatan publik dapat sangat signifikan. Penurunan produksi pertanian, kerusakan infrastruktur, serta peningkatan biaya kesehatan akibat polusi udara dapat menambah beban negara. Oleh karena itu, persiapan yang matang dan koordinasi lintas sektoral menjadi kunci utama dalam mengurangi potensi kerugian.

Kesimpulannya, proyeksi El Nino 2026 yang diperkirakan sekuat 1997 menimbulkan ancaman serius bagi wilayah Riau. Dengan menggabungkan langkah-langkah preventif, penegakan hukum yang konsisten, dan partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan, risiko kebakaran hutan dapat diminimalisir. Waktu untuk bertindak adalah sekarang, sebelum kondisi kering dan panas menjadi faktor pemicu yang tak dapat dihindari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *