Guru & Dosen
Beranda » Berita » Efektivitas WFH untuk Guru-Dosen ASN: Pakar UGM Ungkap Risiko Learning Loss

Efektivitas WFH untuk Guru-Dosen ASN: Pakar UGM Ungkap Risiko Learning Loss

Efektivitas WFH untuk Guru-Dosen ASN: Pakar UGM Ungkap Risiko Learning Loss
Efektivitas WFH untuk Guru-Dosen ASN: Pakar UGM Ungkap Risiko Learning Loss

Media Pendidikan – 13 April 2026 | Pemerintah Indonesia saat ini menerapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi pegawai Negeri Sipil (ASN), termasuk guru dan dosen di seluruh negeri. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan risiko penularan Covid-19 sekaligus menjaga kelangsungan proses belajar mengajar. Namun, pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti bahwa penerapan WFH tidak serta-merta menjamin efektivitas pembelajaran, melainkan berpotensi menimbulkan fenomena learning loss.

Sejak diberlakukannya kebijakan WFH, sejumlah sekolah dan perguruan tinggi melaporkan perubahan pola kerja tenaga pengajarnya. Guru-guru di wilayah perkotaan umumnya memiliki akses internet yang stabil, sementara dosen di daerah terpencil masih menghadapi kendala koneksi. Kondisi ini menambah beban adaptasi metode pengajaran, sehingga proses evaluasi hasil belajar menjadi lebih sulit.

Baca juga:

Pandangan Pakar tentang Learning Loss

Pakar UGM menjelaskan bahwa learning loss dapat terjadi bila proses belajar tidak terstruktur dengan baik selama periode WFH. “Jika materi tidak disampaikan secara berkesinambungan, siswa akan kehilangan fondasi penting, terutama pada mata pelajaran yang memerlukan latihan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemantauan secara rutin serta penyediaan materi pembelajaran yang interaktif menjadi kunci untuk meminimalisir dampak negatif.

Selain itu, pakar tersebut mengusulkan beberapa langkah strategis: pertama, penyediaan perangkat keras dan paket data yang memadai bagi semua guru dan dosen ASN; kedua, pelatihan intensif tentang pedagogi daring; ketiga, penguatan sistem penilaian formatif yang dapat mengidentifikasi kemajuan belajar secara real‑time.

Baca juga:

Data internal kementerian menunjukkan bahwa sejak kebijakan WFH diberlakukan, jumlah kelas daring meningkat sekitar 30 persen. Namun, belum ada data resmi yang mengukur secara kuantitatif tingkat learning loss di tingkat nasional. Pakar UGM menegaskan pentingnya riset lanjutan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Dalam menanggapi pernyataan tersebut, pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan komitmen untuk memperkuat infrastruktur digital serta meningkatkan kompetensi guru dan dosen melalui program pelatihan berkelanjutan. “Kami berupaya memastikan bahwa kebijakan WFH tidak mengorbankan kualitas pendidikan,” kata seorang pejabat kementerian.

Baca juga:

Secara keseluruhan, keberhasilan WFH bagi guru-dosen ASN sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan teknologi, dan kesiapan tenaga pendidik. Tanpa upaya bersama, risiko learning loss dapat menghambat pencapaian target pembelajaran nasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *