Media Pendidikan – 25 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Nurdiana Darus, Direktur Unilever Indonesia, menegaskan kembali pentingnya peran perempuan dalam struktur dan kinerja perusahaan. Dalam sebuah pernyataan publik yang disampaikan pada acara internal perusahaan, ia menyoroti kontribusi signifikan yang dibawa oleh tenaga kerja wanita terhadap inovasi, keberagaman, dan pertumbuhan bisnis.
Poin-poin utama yang diangkat
- Keberagaman pemikiran yang dihadirkan oleh tenaga kerja wanita meningkatkan kreativitas produk.
- Keterlibatan perempuan dalam tim kepemimpinan memperkuat budaya inklusif.
- Data internal menunjukkan bahwa unit bisnis dengan proporsi perempuan yang tinggi mencatat pertumbuhan penjualan lebih stabil.
Unilever Indonesia, sebagai bagian dari grup multinasional yang beroperasi di lebih dari 190 negara, telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan proporsi perempuan di posisi manajerial senior menjadi 50% pada akhir 2025. Meskipun target tersebut masih dalam proses pencapaian, Nurdiana menegaskan bahwa langkah-langkah konkret sudah diimplementasikan, termasuk program mentorship, pelatihan kepemimpinan, dan kebijakan kerja fleksibel.
Sejumlah data pendukung yang dirilis oleh unit HR perusahaan mengindikasikan bahwa sejak 2022, persentase perempuan di tingkat manajer menengah naik dari 38% menjadi 44%. Angka ini mencerminkan tren positif meski masih terdapat ruang untuk perbaikan. Nurdiana juga menyoroti bahwa peningkatan partisipasi perempuan tidak hanya berpengaruh pada internal, namun juga memperkuat citra merek di mata konsumen yang semakin menuntut tanggung jawab sosial perusahaan.
Dalam konteks pasar Indonesia yang masih didominasi oleh industri manufaktur tradisional, Unilever berupaya menyesuaikan strategi pemasaran dengan nilai-nilai inklusif. Produk-produk yang diluncurkan dalam setahun terakhir menampilkan kampanye yang menonjolkan peran perempuan sebagai konsumen utama sekaligus pengambil keputusan dalam rumah tangga.
Menanggapi pertanyaan media, Nurdiana menegaskan bahwa investasi pada pengembangan karier perempuan bukan sekadar kebijakan afirmatif, melainkan strategi bisnis berkelanjutan. “Ketika perempuan diberi kesempatan yang setara, mereka tidak hanya meningkatkan kinerja tim, melainkan juga membuka peluang pasar yang belum tergarap sepenuhnya,” jelasnya.
Pengamatan ini selaras dengan laporan global yang menyatakan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan gender yang seimbang cenderung menghasilkan laba bersih lebih tinggi. Meskipun data tersebut tidak secara khusus diambil dari Unilever Indonesia, Nurdiana menggunakan temuan tersebut sebagai landasan argumentasi untuk memperkuat komitmen perusahaan.
Ke depan, Unilever Indonesia berencana meluncurkan inisiatif baru yang menargetkan rekrutmen perempuan di daerah-daerah terpencil, serta memperluas jaringan alumni wanita yang telah menempuh program pelatihan kepemimpinan. Upaya ini diharapkan dapat menambah jumlah kandidat potensial yang siap mengisi posisi strategis di masa depan.
Kesimpulannya, pernyataan Nurdiana Darus menegaskan bahwa peran perempuan bukan sekadar elemen simbolik, melainkan aset strategis yang dapat mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Dengan langkah-langkah konkret yang terus digulirkan, Unilever Indonesia berusaha menjadikan keberagaman gender sebagai pilar utama dalam pencapaian visi korporatnya.


Komentar