Nasional
Beranda » Berita » Deputi Menteri Penduduk Dorong Perluasan Program Makanan Gratis untuk Kelompok 3B

Deputi Menteri Penduduk Dorong Perluasan Program Makanan Gratis untuk Kelompok 3B

Deputi Menteri Penduduk Dorong Perluasan Program Makanan Gratis untuk Kelompok 3B
Deputi Menteri Penduduk Dorong Perluasan Program Makanan Gratis untuk Kelompok 3B

Media Pendidikan – 06 April 2026 | Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Deputi Menteri Penduduk dan Keluarga Berencana, menegaskan pentingnya memperluas jangkauan program makanan gratis yang kini menargetkan kelompok 3B. Dalam sebuah pertemuan yang diadakan di kantor Kementerian pada Senin (5 April 2024), sang deputi menyoroti peran vital bantuan pangan dalam menanggulangi kemiskinan ekstrem dan meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin di seluruh Indonesia.

Kelompok 3B merupakan kategori rumah tangga yang berada di bawah garis kemiskinan, memiliki pendapatan di bawah Rp1,5 juta per bulan, dan biasanya tidak memiliki akses yang memadai terhadap layanan kesehatan, pendidikan, serta nutrisi yang cukup. Program makanan gratis, yang sejak awal diluncurkan pada tahun 2022, berfokus pada penyediaan paket makanan bergizi kepada keluarga yang berada dalam kategori tersebut. Namun, menurut Ratu Ayu, cakupan program masih belum optimal dan belum mencapai seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan.

Baca juga:

“Kami telah melihat dampak positif dari distribusi paket makanan kepada keluarga 3B, terutama dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan status gizi anak-anak,” ujar Deputi Menteri dalam sambutannya. “Tetapi masih ada ribuan rumah tangga yang belum terjangkau. Oleh karena itu, pemerintah harus memperluas jangkauan program, memperkuat mekanisme distribusi, dan memastikan keberlanjutan pasokan bahan pangan yang berkualitas,” tambahnya.

Deputi Menteri menambahkan bahwa perlu adanya sinergi lintas sektoral antara Kementerian Penduduk dan Keluarga Berencana, Kementerian Sosial, Kementerian Pertanian, serta pemerintah daerah untuk mengoptimalkan alur bantuan. “Kerja sama antara kementerian dan pemerintah daerah sangat penting, terutama dalam menyesuaikan kebijakan dengan kondisi lokal. Misalnya, daerah yang memiliki potensi pertanian dapat memanfaatkan produk lokal sebagai bagian dari paket makanan gratis,” ujarnya.

Selain memperluas cakupan, Ratu Ayu menekankan pentingnya meningkatkan kualitas gizi dalam paket makanan. Ia mengusulkan penambahan sumber protein nabati dan hewani, sayuran segar, serta buah-buahan lokal yang kaya vitamin dan mineral. “Kualitas nutrisi tidak boleh dikorbankan demi kuantitas. Anak-anak dan ibu hamil di rumah tangga 3B memerlukan asupan yang seimbang agar tumbuh dan berkembang secara optimal,” tegasnya.

Baca juga:

Untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas, deputi tersebut mengusulkan penerapan sistem digitalisasi data penerima manfaat. Sistem ini akan terintegrasi dengan basis data kependudukan serta data ekonomi keluarga, sehingga memudahkan identifikasi keluarga yang benar-benar membutuhkan bantuan. “Digitalisasi tidak hanya mempercepat proses distribusi, tetapi juga meminimalisir kebocoran dan duplikasi bantuan,” jelasnya.

Ratu Ayu juga menyoroti tantangan logistik yang menjadi kendala utama dalam memperluas program. Daerah terpencil, terutama di wilayah Indonesia bagian timur, seringkali mengalami kesulitan dalam pengiriman paket makanan karena infrastruktur yang terbatas. Oleh karena itu, ia mengusulkan penggunaan kapal laut kecil, pesawat ringan, dan kendaraan off-road yang dikelola bersama dengan pemerintah daerah dan organisasi non‑pemerintah.

Selanjutnya, deputi menekankan pentingnya melibatkan sektor swasta dalam penyediaan bahan pangan. “Kemitraan dengan produsen lokal, koperasi, dan perusahaan agribisnis dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan ketersediaan bahan baku,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa insentif fiskal bagi perusahaan yang berkontribusi pada program dapat menjadi dorongan tambahan.

Baca juga:

Berbagai pihak merespons seruan Ratu Ayu dengan antusias. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan kesiapan provinsinya untuk meningkatkan alokasi dana daerah demi memperluas program. Di sisi lain, perwakilan LSM yang fokus pada pemberdayaan ekonomi keluarga miskin, Ibu Siti Nurhaliza, mengapresiasi usulan digitalisasi data dan menekankan pentingnya pelatihan bagi petugas lapangan agar dapat mengoperasikan sistem baru secara efektif.

Dalam penutupannya, Deputi Menteri menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah paket yang didistribusikan, melainkan juga dari peningkatan indikator kesehatan dan kesejahteraan keluarga. “Kami menargetkan penurunan angka stunting sebesar 15 persen dalam lima tahun ke depan dan peningkatan indeks massa tubuh (IMT) pada anak-anak 3B,” kata Ratu Ayu dengan keyakinan.

Dengan langkah konkret yang meliputi perluasan jangkauan, peningkatan kualitas gizi, digitalisasi data, serta kolaborasi lintas sektor, harapan besar ditempatkan pada pemerintah untuk mengurangi beban kemiskinan ekstrem dan menciptakan generasi yang lebih sehat di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *