Sekolah
Beranda » Berita » Dari Pencari Rumput Jadi Ketua Asrama: Danu Temukan Harapan di Sekolah Rakyat

Dari Pencari Rumput Jadi Ketua Asrama: Danu Temukan Harapan di Sekolah Rakyat

Dari Pencari Rumput Jadi Ketua Asrama: Danu Temukan Harapan di Sekolah Rakyat
Dari Pencari Rumput Jadi Ketua Asrama: Danu Temukan Harapan di Sekolah Rakyat

Media Pendidikan – 30 April 2026 | Wirandanu, atau akrab disapa Danu, siswa kelas VII di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas, kini menjadi ketua asrama setelah sebelumnya menghabiskan waktu mencari rumput untuk ternak keluarganya. Berusia 13 tahun, Danu tinggal bersama pamannya di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, yang terletak di lereng Gunung Slamet.

Keluarga Danu sederhana; pamannya bekerja sebagai buruh bangunan dengan pendapatan tidak menentu, sementara ibunya diduga penyandang disabilitas mental. Karena itu, pamannya berperan sebagai figur ayah. “Dari kecil aku udah dirawat di sini, jadi aku anggap lilik (paman) aku itu ya kayak bapak lah,” kata Danu saat diwawancarai setelah jam pelajaran pada Rabu (29/4).

Baca juga:

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Danu membantu pamannya mencari rumput untuk pakan kambing. “Kalau udah libur ya, itu bangun tidur, cuci muka dulu, dan sarapan, terus ngambil arit buat cari rumput, aku nyari di mana, contohnya di kebun,” ujarnya. Kehidupan di asrama semula tidak mudah; ia sempat mencoba melarikan diri karena kesulitan beradaptasi. Namun, dukungan guru dan tenaga pendidik membantu ia menemukan ritme baru.

Perubahan paling terasa pada disiplin dan keimanan Danu. “Kerasa banget (perubahannya), kalau dulu ibadah biasanya, kan ada temen yang rajin salat, aku cuma ngikut, misal maghrib doang, terus kedisiplinan aku, sikap aku (berubah),” ujar Danu. Selain meningkatkan kedisiplinan, sekolah juga menumbuhkan rasa kepemimpinan. Teman-temannya memilihnya sebagai ketua asrama, memimpin 11 siswa lain dalam satu unit asrama.

Baca juga:

Sebagai ketua, Danu bertanggung jawab mengingatkan teman-temannya tentang jadwal piket, menjaga kebersihan, serta memastikan tidak ada yang masuk asrama dengan sepatu atau sandal. “Ngingetin (teman) soal piket, terus jangan ada yang masuk asrama pakai sepatu atau sandal, itu diingetin, itu cucian pada numpuk juga harus segera dicuci,” jelas Danu. Tantangan muncul ketika beberapa teman sulit diingatkan, namun Danu belajar menyelesaikannya dengan komunikasi bijak bersama wali asrama.

Harapan Danu kini beralih ke bidang peternakan kambing, sebuah cita‑cita yang tumbuh sejak kecil karena kebiasaannya mencari rumput. “Cita‑cita jadi peternak kambing, karena udah kebiasaan cari rumput,” tambahnya. Ia menilai pengalaman menjadi ketua asrama sebagai modal penting untuk mengelola usaha di masa depan.

Baca juga:

Sekolah Rakyat, yang merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto, menawarkan lingkungan belajar yang mengintegrasikan pendidikan formal dengan pengembangan karakter. Danu mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Presiden dan Menteri Sosial atas kesempatan yang diberikan. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan Bapak Menteri Sosial, karena saya bisa diterima di Sekolah Rakyat ini, banyak perubahan dari awal saya datang ke sini, dan sampai saat ini, saya dapatkan ilmu yang banyak,” ujarnya.

Dengan dukungan sekolah, Danu kini melihat masa depannya lebih cerah. Perjalanan dari pencari rumput menjadi pemimpin asrama menunjukkan bagaimana pendidikan inklusif dapat mengubah nasib anak‑anak dari keluarga kurang mampu, membuka jalan bagi mereka untuk meraih impian dan meningkatkan kualitas hidup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *