Media Pendidikan – 23 Mei 2026 | Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah tokoh ekonomi nasional di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat, (22/5/2026). Eks Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, mengungkap isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo. Dalam pertemuan yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (22/5), Burhanuddin mengaku berbagi pengalaman saat menangani kondisi ekonomi dan lonjakan inflasi pada 2005.
Burhanuddin bilang, pembicaraan dengan Presiden Prabowo bukan secara spesifik membahas pelemahan rupiah, tetapi mengenai kondisi ekonomi saat ini secara umum dan pengalaman menghadapi tekanan ekonomi di masa lalu yang dinilai bisa menjadi pelajaran untuk kondisi sekarang."
"Diskusi saja, cerita masa lalu, ada event yang dulu juga pernah kejadian. Barangkali bisa dijadikan pelajaran sekarang gitu," ujar Burhanuddin kepada wartawan, Jumat (22/5).
Selain Burhanuddin, sejumlah pejabat yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani. Selain itu, hadir juga mantan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Lukita Dinarsyah Tuwo dan ekonom Paskah Suzetta.
Burhanuddin mengatakan dalam pertemuan tersebut dia berbicara terkait kondisi ekonomi pada medio 2005, ketika harga BBM dinaikkan hingga 126 persen dan berdampak besar terhadap inflasi maupun stabilitas ekonomi nasional."
"Dulu misalnya kan tahun 2005 kita naikin BBM 126 persen, cuma beda sumbernya aja. Sekarang (kenaikan harga minyak) eksternal, dulu di dalam negeri yang menaikkan (BBM). Itu juga karena eksternal kan. Nah terus kemudian dampaknya kan sama seperti sekarang, mungkin cara penanganannya yang harus di-refine gitu," katanya.
"Enggak, enggak, enggak spesifik. Tapi keseluruhan dampak dari sekarang. Faktor global dulu, dari faktor domestik yang karena subsidinya besar gitu waktu itu," ujarnya.
Kata Burhanuddin, Presiden Prabowo juga memaparkan langkah kebijakan yang sedang dilakukan agar lebih mudah dipahami masyarakat dan pasar.
"Ada hal-hal yang perlu dilakukan secara lebih detail. Misalnya tentang masalah kita apa? Lebih dinyatakan gitu. Kemudian kita sedang melakukan apa, dan kita di mana sekarang," katanya.
Dalam pertemuan itu, Burhanuddin juga mengaku menyampaikan sejumlah usulan kepada Prabowo. Menurut dia, Prabowo bahkan meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mempertimbangkan masukan tersebut.
Meski demikian, dia tak merinci lebih lanjut apa usulan yang diutarakan kepada Prabowo.
"Ada, umum sekali tadi yang saya usulkan. Tapi Bapak Presiden meminta Menteri Keuangan tadi untuk mencoba memikirkan hal-hal yang saya pikirkan itu ke depan," katanya.
Burhanuddin juga menyinggung kebijakan suku bunga tinggi mencapai 12,5 persen yang pernah diterapkan BI pada 2005 untuk meredam inflasi pasca kenaikan BBM.


Komentar