Sains & Teknologi
Beranda » Berita » BRIN Nilai Fast Charging Motor Listrik Ungguli Tukar Baterai, Lebih Prospektif

BRIN Nilai Fast Charging Motor Listrik Ungguli Tukar Baterai, Lebih Prospektif

BRIN Nilai Fast Charging Motor Listrik Ungguli Tukar Baterai, Lebih Prospektif
BRIN Nilai Fast Charging Motor Listrik Ungguli Tukar Baterai, Lebih Prospektif

Media Pendidikan – 10 Juni 2026 | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bahwa tantangan terbesar pengembangan motor listrik saat ini bukan lagi pada ketersediaan produk, melainkan pemerataan infrastruktur pengisian daya. Oleh karena itu, lembaga tersebut tengah mengembangkan ekosistem fast charging motor listrik, termasuk tipe colokan dan infrastrukturnya yang dinilai lebih mudah diperbanyak.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana mengatakan bahwa salah satu keunggulan utama fast charging motor listrik terletak pada nilai investasi yang jauh lebih rendah, sehingga lebih mudah diperbanyak di berbagai lokasi.

Baca juga:

Fast charging station ini nilai investasinya murah sekali. Dengan sekitar Rp 40 juta itu sudah bisa membangun satu unit charging station, tinggal biaya shelter-nya, listrik juga menggunakan satu fasa saja.

Semakin banyak titik pengisian daya yang tersedia, semakin kecil pula kekhawatiran masyarakat untuk menggunakan motor listrik dalam perjalanan jarak jauh. Dengan begitu dapat mendorong pertumbuhan populasi kendaraan listrik roda dua lebih cepat.

Baca juga:

Motor listrik Polytron Fox 350 saat diisi daya di ULP Sribhawono. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanMenurutnya aspek keekonomian infrastruktur menjadi faktor penting karena akan menentukan seberapa cepat jaringan pengisian daya dapat berkembang. Dalam konteks ini, fast charging memiliki keunggulan dibanding sistem penukaran baterai (swap) yang saat ini juga dikembangkan di Indonesia.

Ia bilang biaya investasi yang lebih besar membuat ekspansi jaringan penukaran berjalan lebih lambat. Kondisi itu terlihat dari jumlah stasiun penukaran baterai (SPBKLU) yang saat ini beroperasi terbatas, jika dibandingkan dengan kebutuhan pasar kendaraan roda dua nasional.

Baca juga:

Swap itu karena mahal, sehingga perkembangannya sedikit, pelan. Hanya baru hampir 2.000 unit se-Indonesia. Karena pemilik harus investasi beli baterainya dulu, baterai cadangan juga, jadi mahal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *