Ekonomi
Beranda » Berita » Ekspor Batu Bara Sumsel Turun 50% pada Kuartal I 2026, Nilai Mencapai $343,59 Juta

Ekspor Batu Bara Sumsel Turun 50% pada Kuartal I 2026, Nilai Mencapai $343,59 Juta

Ekspor Batu Bara Sumsel Turun 50% pada Kuartal I 2026, Nilai Mencapai $343,59 Juta
Ekspor Batu Bara Sumsel Turun 50% pada Kuartal I 2026, Nilai Mencapai $343,59 Juta

Media Pendidikan – 07 Mei 2026 | Ekspor batu bara dan lignit Sumatera Selatan mengalami penurunan tajam pada kuartal pertama 2026. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan, nilai ekspor mencapai USD 343,59 juta, turun 50,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Gambaran visual aktivitas bongkar muat batu bara dapat dilihat dari foto udara di lokasi penampungan sementara kawasan Keramasan, Kertapati, Palembang. Pada Rabu, 6 Mei 2026, truk‑truk terus mengangkut batu bara meskipun pasar ekspor menunjukkan tekanan berat.

Baca juga:

Data resmi BPS mengungkapkan nilai ekspor batu bara dan lignit pada Januari‑Maret 2026 sebesar USD 343,59 juta. Pada periode yang sama tahun 2025, angka tersebut mencapai USD 701,13 juta. Penurunan hampir setengah nilai ini mencerminkan melemahnya permintaan internasional serta persaingan harga yang semakin ketat.

Seorang juru bicara BPS Sumsel menyatakan, “Penurunan ini mencerminkan tantangan global pada permintaan energi fosil, terutama di tengah transisi energi bersih yang semakin cepat.” Ia menambahkan bahwa faktor harga batu bara internasional yang turun dan kebijakan pembatasan impor di beberapa negara tujuan utama turut memperburuk situasi.

Baca juga:

Dampak penurunan ekspor dirasakan oleh pelaku industri lokal, mulai dari perusahaan pertambangan hingga usaha transportasi dan logistik di sekitar Pelabuhan Tanjung Api‑Api. Menurut analisis ekonom regional, penurunan ini dapat menurunkan pendapatan daerah sekitar 2‑3 persen, mengingat batu bara merupakan salah satu komoditas unggulan Sumatera Selatan.

Ke depan, otoritas provinsi berupaya meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan batu bara menjadi produk turunan, serta memperkuat diversifikasi pasar. Namun, tanpa perbaikan kondisi permintaan global, pemulihan nilai ekspor diperkirakan memerlukan waktu beberapa kuartal ke depan.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *