Media Pendidikan – 07 Mei 2026 | Asosiasi Kendaraan Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menyatakan dukungan terhadap rencana pemerintah yang akan memberikan subsidi motor listrik sebesar Rp5 juta per unit, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Juni 2025. Ketua Umum Aismoli, Budi Setiyadi, menegaskan bahwa kebijakan ini dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia, asalkan ada kepastian jangka panjang.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah peluncuran motor listrik baru Polytron 350 di Jakarta pada 19 November 2025. Dalam forum diskusi intensif bersama pemerintah, Aismoli meninjau skema subsidi meliputi besaran bantuan, mekanisme penyaluran, dan perkiraan jumlah unit yang akan menerima subsidi.
“Kita juga sudah brainstorming, saling tukar informasi pikiran terkait rencana subsidi ini,” ujar Budi Setiyadi dalam wawancara dengan Kumparan pada 5 Mei 2025.
Budi menambahkan bahwa industri menyambut baik langkah pemerintah, namun mengharapkan kebijakan tidak bersifat sementara. Ia mengusulkan skema “multi‑years” yang memungkinkan pembayaran subsidi dapat dilanjutkan lintas tahun anggaran, sehingga produsen tidak harus menutup penjualan di akhir tahun fiskal. Target awal subsidi sebesar 100 ribu unit dianggap realistis jika pelaksanaan dimulai lebih awal, namun efektivitasnya akan meningkat bila periode pengadaan dapat diperpanjang menjadi 3–5 tahun.
Dari sisi kapasitas produksi, Aismoli mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 35–36 pabrik motor listrik dengan total kapasitas mencapai satu juta unit per tahun. “Dengan catatan pemerintah ada kepastian subsidinya ini akan berlanjut, tidak setahun‑setahun, industri akan bersiap‑siap untuk meningkatkan kapasitas produksi,” kata Budi, menekankan pentingnya data Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam perencanaan.
Pasar motor listrik juga menunjukkan tren positif. Penjualan motor listrik meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh kebutuhan mengurangi emisi gas rumah kaca, memperbaiki kualitas udara, serta mengatasi ketidakstabilan harga bahan bakar fosil di pasar global. Budi menilai bahwa transisi energi menjadi langkah strategis bagi efisiensi nasional, terutama mengingat lonjakan harga energi dan potensi kelangkaan BBM di beberapa negara.
“Saya optimistis kuota subsidi akan terserap pasar apabila implementasinya konsisten, tetapi akan lebih baik bila kepastian waktunya lebih panjang, misalnya tenor 3‑5 tahun, sehingga penjualan di bulan Desember tidak terhenti dan pembayaran dapat berlanjut hingga 2027,” tambahnya.
Sejauh ini, pemerintah belum mengumumkan detail akhir skema multi‑years, namun tekanan dari asosiasi industri menuntut kejelasan agar investasi dalam riset, pengembangan, dan peningkatan kapasitas produksi dapat berjalan tanpa hambatan. Jika pemerintah dapat menyediakan kepastian yang diminta, Aismoli yakin industri motor listrik Indonesia siap memperkuat posisi pasar domestik dan berkontribusi pada agenda energi bersih nasional.


Komentar