Media Pendidikan – 03 Mei 2026 | Human Papillomavirus (HPV) tidak lagi dapat dianggap sebagai masalah kesehatan khusus perempuan. Laporan terbaru menegaskan bahwa virus ini dapat menyerang siapa saja, termasuk laki-laki, dan menimbulkan berbagai jenis kanker bila tidak dicegah melalui vaksinasi.
HPV menular pada semua gender
Penularan HPV terjadi lewat kontak kulit, terutama selama aktivitas seksual. Pada perempuan, virus ini terkenal sebagai penyebab utama kanker serviks, namun studi sejak 2014 telah mengidentifikasi peranannya dalam kanker anus, penis, dan orofaring pada pria. “HPV dapat menyerang siapa saja, tidak hanya perempuan,” ujar Dr. Siti Aisyah, pakar onkologi di RSUP Nasional. Karena infeksi sering tidak menimbulkan gejala, banyak orang menjadi pembawa virus tanpa menyadarinya, memperparah penyebaran di masyarakat.
Data penelitian tahun 2019 menunjukkan bahwa mayoritas kasus penularan berlangsung secara asimtomatik, sehingga deteksi dini menjadi sulit. Sementara itu, riset keamanan vaksin HPV pada tahun 2021 mencatat bahwa efek samping umumnya ringan, meliputi nyeri di lokasi suntikan, demam ringan, atau rasa lelah, tanpa ada laporan komplikasi serius.
Pentingnya vaksinasi sejak remaja
Vaksin HPV bekerja dengan melatih sistem imun agar mengenali komponen virus tertentu, sehingga tubuh dapat menolak infeksi di masa depan. Karena sifatnya preventif, vaksin ini paling efektif bila diberikan sebelum individu aktif secara seksual, idealnya pada usia remaja. Di Indonesia, program imunisasi nasional saat ini difokuskan pada anak perempuan dengan tujuan menurunkan angka kanker serviks. Namun, beberapa negara telah memperluas programnya kepada anak laki-laki sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif.
Pemberian vaksin kepada laki-laki tidak hanya melindungi individu, melainkan juga memutus rantai penularan, menghasilkan manfaat kolektif bagi seluruh komunitas. Sebuah studi tahun 2014 menegaskan bahwa melibatkan pria dalam program vaksinasi dapat menurunkan prevalensi HPV secara signifikan di populasi umum.
Hambatan dan langkah ke depan
Kendala utama dalam meningkatkan cakupan vaksinasi adalah kurangnya informasi akurat. Banyak orang masih ragu atau menunda vaksin karena terpapar mitos dan data tidak lengkap. Edukasi berbasis bukti serta kampanye yang menekankan manfaat vaksin bagi kedua gender diperlukan untuk mengubah persepsi publik.
Dengan kesadaran yang lebih luas, diharapkan kebijakan kesehatan Indonesia dapat memperluas target vaksinasi, mencakup laki-laki remaja, sehingga beban penyakit yang dapat dicegah ini dapat ditekan secara maksimal.


Komentar