Media Pendidikan – 19 April 2026 | Jakarta, 19 April 2026 – Kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kg yang bersamaan dengan lonjakan harga BBM nonsubsidi memicu keluhan masif di kalangan warga kota, menambah beban ekonomi rumah tangga yang sudah tertekan.
Pemerintah mengumumkan penyesuaian tarif LPG nonsubsidi menjadi lebih tinggi pada hari Senin, sementara harga BBM jenis Premium, Pertamax, dan Solar juga naik secara simultan. Kombinasi tersebut membuat biaya kebutuhan pokok bulanan naik signifikan, terutama bagi keluarga berpendapatan menengah ke bawah yang mengandalkan kedua jenis energi untuk memasak dan transportasi.
“Saya tidak sanggup lagi membayar dua kebutuhan sekaligus yang harganya melonjak,” ujar Budi Hartono, seorang karyawan swasta asal Kelapa Gading, dalam wawancara singkat. “Setiap bulan harus mengatur ulang pengeluaran, bahkan kadang harus mengurangi makanan atau menunda pembayaran listrik.”
Data resmi menunjukkan bahwa LPG 12 kg kini dijual dengan harga lebih tinggi daripada sebelumnya, meskipun angka pastinya belum dipublikasikan secara lengkap. Kenaikan ini, dikombinasikan dengan tarif BBM yang meningkat rata-rata 7 persen, menambah tekanan pada anggaran keluarga. Analisis ekonomi sederhana mengindikasikan bahwa rata-rata rumah tangga harus mengalokasikan tambahan Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per bulan untuk menutup selisih biaya energi.
Menanggapi situasi ini, sejumlah pihak mengusulkan penggunaan kembali gas subsidi yang sebelumnya dialokasikan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah. Pemerintah daerah Jakarta diperkirakan akan meninjau kebijakan distribusi subsidi guna meredam dampak sosial ekonomi yang meluas. Namun, belum ada keputusan final terkait perluasan atau penyesuaian subsidi tersebut.
Pengamat ekonomi menilai bahwa “harga LPG naik” secara bersamaan dengan BBM nonsubsidi dapat mempercepat inflasi inti, terutama pada sektor rumah tangga. Mereka menekankan perlunya langkah kebijakan yang terkoordinasi antara kementerian energi dan keuangan untuk menstabilkan harga serta memberikan bantuan langsung kepada yang paling terdampak.
Ke depan, warga Jakarta diharapkan terus memantau perkembangan kebijakan energi, sementara pemerintah berjanji akan melakukan evaluasi berkala guna memastikan stabilitas pasokan dan harga energi yang adil.


Komentar