Media Pendidikan – 14 April 2026 | Pertanian perkotaan terintegrasi muncul sebagai solusi inovatif di tengah percepatan urbanisasi Indonesia. Penelitian yang dipimpin oleh Armansyah dan tim (2022-2025) di Bandung, Denpasar, dan Palembang menunjukkan bahwa model pertanian yang menggabungkan kebun, peternakan, tanaman obat, dan pengelolaan sampah dapat menambah nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi warga kota.
Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa selama dekade 2010-2020 wilayah perkotaan Indonesia bertambah sebesar 14,8 persen, setara dengan sekitar 7.043 desa yang berubah status menjadi kota. Perubahan ini tidak hanya bersifat administratif; lahan pertanian berkurang, gaya hidup beralih konsumsi, dan minat generasi muda terhadap pertanian menurun drastis.
Akibatnya, ketahanan pangan nasional terancam, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan potensi gangguan pasokan global. Menyikapi hal tersebut, para peneliti berpendapat bahwa produksi pangan tidak boleh lagi eksklusif berada di pedesaan. “Kota juga bisa berkontribusi untuk pemenuhan bahan pangan secara mandiri,” tegas Armarmansyah dalam laporan akhir studi.
Urban farming terintegrasi didefinisikan sebagai kegiatan pertanian skala kecil yang dipadukan dengan perkebunan, peternakan, tanaman obat, serta sistem pengelolaan sampah rumah tangga. Praktiknya sederhana: lahan pekarangan atau ruang kosong di tengah permukiman dimanfaatkan untuk menanam umbi‑umbian, sayuran, buah, serta memelihara ayam petelur atau ikan lele. Sampah organik diproses menjadi kompos, sementara sampah non‑organik dipilah untuk daur ulang.
Manfaat Sosial‑Demografi
Komunitas dan keluarga yang menjalankan pertanian perkotaan menciptakan ruang berkumpul, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan budaya saling berbagi. Aktivitas menanam, memanen, hingga menjual hasil menjadi ajang interaksi intens antara pendatang dan warga lokal, menghidupkan kembali rasa “kekeluargaan” di tengah lingkungan yang biasanya individualistis.
Manfaat Ekonomi
Walaupun pendapatan tambahan belum berskala besar, rumah tangga yang mengelola pekarangan dapat mengurangi pengeluaran makanan hingga 30‑50 persen per hari, menurut hasil studi Suharso (2019). Beberapa pelaku di Palembang, Bandung, dan Denpasar bahkan berhasil menembus pasar modern, seperti supermarket, hotel, dan kafe, serta menjual produk secara online melalui media sosial. Pendapatan tersebut tidak hanya menutupi biaya dapur, melainkan juga dialokasikan untuk investasi lahan baru atau pelatihan anggota komunitas.
Manfaat Lingkungan
Selain menambah ruang terbuka hijau, pertanian perkotaan berperan sebagai unit pengolahan sampah. Sebuah komunitas di Bandung mengklaim berhasil mengolah seluruh sampah organik dan non‑organik menjadi kompos atau pakan ternak, sehingga tidak ada residu yang dibuang ke lingkungan. Praktik serupa di Denpasar menunjukkan potensi signifikan dalam mengurangi volume sampah kota bila diterapkan secara masif.
Dengan bukti manfaat multifungsi yang terukur, pertanian perkotaan terintegrasi menawarkan alternatif strategis bagi kota yang menghadapi tekanan urbanisasi, perubahan iklim, dan ketidakpastian pasokan pangan. Pemerintah daerah dan pemangku kebijakan diharapkan memperkuat dukungan, misalnya melalui penyediaan lahan publik, pelatihan teknis, dan insentif bagi inisiatif komunitas.
Jika model ini dapat direplikasi secara luas, bukan hanya ketahanan pangan yang terjaga, tetapi juga kualitas hidup, kesejahteraan ekonomi, dan kebersihan lingkungan kota Indonesia akan semakin terjamin.


Komentar