Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Waspada Gejala Hemofilia: Perdarahan Tak Kunjung Henti Hingga Nyeri Sendi di Yogyakarta

Waspada Gejala Hemofilia: Perdarahan Tak Kunjung Henti Hingga Nyeri Sendi di Yogyakarta

Waspada Gejala Hemofilia: Perdarahan Tak Kunjung Henti Hingga Nyeri Sendi di Yogyakarta
Waspada Gejala Hemofilia: Perdarahan Tak Kunjung Henti Hingga Nyeri Sendi di Yogyakarta

Media Pendidikan – 18 April 2026 | YOGYAKARTA – Pada peringatan Hari Hemofilia Sedunia tanggal 17 April 2026, para pakar kesehatan menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala hemofilia pada anak. Mereka menyoroti bahwa di Indonesia, terutama di Yogyakarta, banyak kasus baru teridentifikasi setelah penderita mengalami perdarahan hebat yang sulit dikendalikan, seringkali disertai nyeri pada sendi.

Hemofilia merupakan kelainan pembekuan darah yang dapat menyebabkan pendarahan berulang, baik secara internal maupun eksternal. Pada anak-anak, tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai meliputi memar yang muncul tanpa sebab jelas, pendarahan pada gigi atau mulut setelah mencabut gigi, serta pendarahan yang terjadi setelah cedera ringan. Jika pendarahan tidak berhenti, dapat menimbulkan nyeri pada sendi, terutama pada lutut, siku, atau pergelangan tangan, yang berpotensi mengganggu mobilitas dan pertumbuhan anak.

Baca juga:

Pengamatan Pakar Kesehatan di Yogyakarta

Pakar kesehatan setempat menjelaskan, “Kami mengimbau orang tua untuk segera mencari pertolongan medis jika anak mengalami pendarahan yang tidak kunjung berhenti atau menimbulkan rasa nyeri pada sendi. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan persendian permanen.” Mereka menambahkan bahwa penanganan tepat waktu dapat memperkecil risiko komplikasi serius dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Data lokal menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemofilia baru terdiagnosis setelah mengalami episode perdarahan berat di rumah sakit. Kondisi ini mengindikasikan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal, sehingga banyak kasus terlewat hingga masuk ke fase kritis. Pemerintah daerah Yogyakarta bersama lembaga kesehatan berkomitmen meningkatkan edukasi publik melalui seminar, penyuluhan di sekolah, dan penyebaran materi edukatif pada hari peringatan internasional tersebut.

Baca juga:

Selain edukasi, upaya peningkatan akses layanan kesehatan juga ditekankan. Rumah sakit di Yogyakarta kini dilengkapi dengan laboratorium khusus untuk tes faktor koagulasi, sehingga diagnosis dapat dilakukan lebih cepat. Tim medis juga dilatih untuk memberikan terapi pengganti faktor koagulasi secara tepat, yang menjadi standar penanganan hemofilia di negara maju.

Secara statistik, perkiraan prevalensi hemofilia di Indonesia mencapai 1 per 10.000 pria, dengan sebagian besar kasus berada di wilayah Jawa. Meskipun angka tersebut terbilang kecil, dampaknya signifikan bagi kualitas hidup penderita dan keluarganya. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran tidak hanya menjadi tanggung jawab medis, tetapi juga melibatkan komunitas, sekolah, dan organisasi non‑profit.

Baca juga:

Dengan menandai Hari Hemofilia Sedunia, para ahli berharap masyarakat Yogyakarta dan seluruh Indonesia dapat lebih sensitif terhadap gejala hemofilia. Upaya deteksi dini, penanganan yang tepat, serta edukasi berkelanjutan diharapkan dapat menurunkan angka kasus baru yang terdeteksi lewat kejadian perdarahan berat.

Ke depannya, pihak terkait berencana meluncurkan program skrining hemofilia pada bayi baru lahir di beberapa rumah sakit wilayah Jawa, guna menurunkan angka keterlambatan diagnosis. Jika program ini berhasil, diharapkan dapat mengurangi beban penyakit serta meningkatkan harapan hidup penderita hemofilia di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *