Media Pendidikan – 15 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026 – Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, di Paris. Diskusi utama mencakup pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) serta langkah-langkah strategis untuk mendukung transisi energi Indonesia.
Pertemuan tersebut menandai titik penting dalam hubungan pertahanan dua negara. Prabowo menekankan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kemampuan militer melalui modernisasi peralatan tempur, termasuk pesawat tempur, kapal selam, dan sistem pertahanan udara. Ia menyampaikan harapan agar Perancis, sebagai salah satu produsen alutsista terkemuka, dapat menjadi mitra utama dalam proses pengadaan tersebut.
Di sisi energi, Prabowo menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi nasional, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Ia mengajak Perancis untuk berbagi teknologi energi terbarukan, khususnya dalam bidang tenaga surya, angin, dan hidrogen hijau, yang dianggap dapat mempercepat agenda net‑zero Indonesia.
“Kami berkomitmen memperkuat alutsista sekaligus mempercepat transisi energi demi keamanan dan keberlanjutan masa depan negara,” ujar Prabowo Subianto dalam pernyataan resmi setelah pertemuan.
Presiden Macron menanggapi dengan optimisme, menyatakan, “Kerja sama antara Indonesia dan Perancis di bidang pertahanan dan energi memiliki potensi besar untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi kedua negara.” Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan Perancis siap memberikan dukungan teknis dan investasi yang diperlukan.
Selain pembahasan strategis, kedua pemimpin sepakat untuk memperdalam dialog teknis melalui kerja sama antara lembaga pertahanan dan energi masing‑masing. Pertemuan ini juga membuka peluang bagi perusahaan Indonesia untuk berpartisipasi dalam proyek‑proyek energi bersih yang tengah digalakkan oleh pemerintah Perancis.
Secara keseluruhan, pertemuan Prabowo dan Macron mencerminkan intensifikasi hubungan bilateral yang tidak hanya terfokus pada pertahanan tradisional, tetapi juga pada agenda global seperti perubahan iklim. Kedepannya, kedua belah pihak akan menjadwalkan serangkaian pertemuan lanjutan untuk merumuskan kesepakatan konkret dalam bentuk nota kesepahaman atau protokol kerja.


Komentar