Pendidikan
Beranda » Berita » Dokter Ikan Perempuan Patahkan Stereotipe: Drh. Citantyaning Kirana Berbagi Pengalaman

Dokter Ikan Perempuan Patahkan Stereotipe: Drh. Citantyaning Kirana Berbagi Pengalaman

Dokter Ikan Perempuan Patahkan Stereotipe: Drh. Citantyaning Kirana Berbagi Pengalaman
Dokter Ikan Perempuan Patahkan Stereotipe: Drh. Citantyaning Kirana Berbagi Pengalaman

Media Pendidikan – 25 Mei 2026 | Beberapa waktu belakangan, dunia maya diramaikan dengan profesi unik yang jarang diketahui banyak orang, yakni dokter ikan. Sosok yang berhasil menyorot profesi tersebut adalah drh. Citantyaning Kirana, seorang dokter hewan yang berfokus pada medis ikan hias.

Drh. Citan, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa minatnya mendalami medis ikan hias atau aquatic veteriner lahir dari hobi memelihara ikan hias seperti ayahnya. Meski sempat muncul keraguan karena khawatir studinya masih terbatas, Citan berhasil melawan rasa cemas tersebut.

Baca juga:

"Yang bikin aku mendalami aquatic veteriner itu awalnya dari hobi. Jadi karena ngeliat Papa hobi (pelihara ikan), aku ikut hobi juga. Nah, setelah hobi itulah aku mulai mendalami aquatik veteriner atau medis ikan hias lebih tepatnya, dan melihat peluang juga," jelas Citan.

Citan pun berhasil mengembangkan platform Dokter Ikan Indonesia di media sosial Instagram hingga diikuti oleh lebih dari 362 ribu pengguna. Edukasi terkait ikan hias ini pun semakin meluas, sehingga tidak terbatas pada penghobi ikan hias dalam komunitas tertentu.

Sayangnya, sepanjang perjalanan kariernya, Citan pernah menemui sejumlah tantangan. Salah satunya adalah stereotipe terkait gender. Ia menjelaskan, ada beberapa orang yang menganggap perempuan tidak bisa menjadi dokter ikan karena secara fisik tidak mampu.

Baca juga:

"Dokter ikan di Indonesia awalnya itu semuanya laki-laki, yang perempuan tadinya belum ada. Aku sempat belajar ke beberapa dokter ikan yang sudah lebih dulu berkarier daripada aku, tapi salah satu dari mereka itu langsung punya pendapat bahwa perempuan itu bakal susah banget jadi dokter ikan karena main fisik. Kita harus nyerok ikan, mengangkat ikan, dan itu berat," jelas Citan.

Namun, stereotipe tersebut justru tidak membuat Citan berhenti bergerak. Dia semakin termotivasi karena ia sadar, profesi ini masih sangat mungkin dilakukan oleh perempuan.

"Aku langsung punya tekad yang kuat untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa punya profesi yang sama, yaitu dokter ikan di Indonesia," imbuhnya.

Baca juga:

Kini, dia mengatakan tidak pernah kehabisan pasien dan hampir selalu melakukan visit (kunjungan) ke rumah-rumah pasiennya. Menurut Citan, pemahaman atau awareness masyarakat terkait profesi dokter ikan dan kesehatan ikan hias juga semakin tinggi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *