Nasional
Beranda » Berita » Wakil Ketua MPR Desak Perpusnas Manfaatkan Naskah Kuno untuk Dorong Literasi Nasional

Wakil Ketua MPR Desak Perpusnas Manfaatkan Naskah Kuno untuk Dorong Literasi Nasional

Wakil Ketua MPR Desak Perpusnas Manfaatkan Naskah Kuno untuk Dorong Literasi Nasional
Wakil Ketua MPR Desak Perpusnas Manfaatkan Naskah Kuno untuk Dorong Literasi Nasional

Media Pendidikan – 15 April 2026 | JAKARTA – Pada sebuah acara yang digelar di ibu kota, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Lestari Moerdijat menekankan pentingnya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tidak sekadar menyimpan naskah kuno, melainkan memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks upaya pemerintah memperkuat fondasi budaya dan pendidikan di tengah tantangan rendahnya tingkat literasi di beberapa daerah.

Perpusnas, sebagai lembaga yang mengelola lebih dari satu juta koleksi buku, manuskrip, dan dokumen bersejarah, memang memiliki tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya. Namun, Lestari menegaskan bahwa peran tersebut tidak boleh berhenti pada penyimpanan semata. “Jika naskah kuno hanya menjadi barang pajangan, maka potensi edukatifnya tidak akan terasa oleh generasi muda,” katanya. Ia mengusulkan agar Perpusnas menggandeng kementerian pendidikan, lembaga kebudayaan, serta sektor swasta untuk menciptakan platform daring yang menampilkan terjemahan, anotasi, dan materi pembelajaran berbasis naskah tersebut.

Baca juga:

Penggunaan naskah kuno sebagai bahan literasi memiliki beberapa keunggulan. Pertama, konten historis yang autentik dapat menumbuhkan rasa kebanggaan dan identitas nasional pada pembaca. Kedua, pendekatan interdisipliner—menggabungkan sejarah, bahasa, dan seni—dapat memperkaya pengalaman belajar. Ketiga, digitalisasi naskah memungkinkan akses yang lebih luas, termasuk bagi daerah terpencil yang sulit menjangkau perpustakaan fisik.

Dalam upaya konkret, Lestari Moerdijat menyarankan tiga langkah utama: (1) mempercepat proses digitalisasi seluruh koleksi naskah kuno, (2) meluncurkan modul literasi berbasis naskah untuk kurikulum sekolah dasar hingga menengah, dan (3) menyelenggarakan kompetisi kreatif yang mengajak pelajar menghasilkan konten multimedia dari materi naskah kuno. “Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan literasi sekaligus melestarikan warisan budaya,” tuturnya.

Baca juga:

Meski belum ada data kuantitatif spesifik yang dirilis terkait jumlah naskah yang akan diproyeksikan ke publik, komitmen pemerintah untuk meningkatkan literasi tercermin dalam program-program nasional sebelumnya, seperti Gerakan Literasi Nasional yang menargetkan peningkatan angka melek huruf secara signifikan dalam lima tahun ke depan.

Dengan sorotan yang kini tertuju pada peran strategis Perpusnas, diharapkan sinergi antar lembaga dapat menghasilkan kebijakan yang lebih terarah. Lestari Moerdijat menutup pernyataannya dengan optimisme, menyatakan bahwa pemanfaatan naskah kuno bukan hanya soal melestarikan masa lalu, melainkan juga membuka peluang bagi generasi mendatang untuk menjadi pembaca kritis dan pemilik budaya yang sadar.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *