Media Pendidikan – 07 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, memulai serangkaian langkah persiapan menghadapi musim kemarau ekstrem yang diprediksi berlangsung dari April hingga Agustus 2026. Langkah ini merupakan respons langsung atas instruksi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menekankan pentingnya pemetaan wilayah rawan kekeringan serta penguatan sistem peringatan dini (early warning system) di seluruh provinsi.
Pemetaaan Kawasan Rawan Kekeringan
Sejalan dengan arahan Kementerian Pertanian, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bangkalan melakukan pemetaan detail pada lahan pertanian yang berpotensi mengalami penurunan curah hujan. Tim teknis yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan mengidentifikasi area utama di daerah pesisir dan dataran rendah, termasuk wilayah Sawah Padi di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Tanjung Bumi. Data ini akan menjadi dasar bagi penetapan prioritas intervensi irigasi.
Optimalisasi Sistem Irigasi
Untuk mengantisipasi penurunan pasokan air, Bangkalan menargetkan rehabilitasi jaringan irigasi sekunder serta pembangunan embung dan sumur dalam. Pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (BPN) yang telah menyiapkan 94.000 unit pompa air dan 37.000 unit infrastruktur irigasi perpompaan serta perpipaan untuk didistribusikan secara bertahap selama 2026. Pada akhir 2025, Bangkalan dijadwalkan menerima setidaknya 1.200 unit pompa air dan beberapa unit traktor serta hand‑sprayer untuk mendukung petani lokal.
Strategi Tanam Tahan Kekeringan
Selain memperkuat infrastruktur, pemerintah Kabupaten Bangkalan memprioritaskan penggunaan varietas padi dan hortikultura yang memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan. Dinas Pertanian bersama Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) mengadakan pelatihan penyuluhan kepada petani mengenai teknik penanaman adaptif, rotasi tanaman, dan pengaturan pola tanam yang dapat mengurangi kehilangan hasil panen.
Koordinasi Lintas Sektor dan Kesiapan Darurat
Koordinasi antar‑instansi menjadi fokus utama. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan menyiapkan tim respons cepat untuk mengatasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering menyertai kondisi kering. Sementara itu, Dinas Kesehatan memastikan ketersediaan air bersih melalui program sumur bor tambahan, mengingat pengalaman Jawa Timur yang menyiapkan hingga 3.800 sumur bor pada tahun 2026.
Seluruh upaya ini didukung oleh alokasi anggaran khusus dalam APBD 2026, dengan prioritas pada infrastruktur irigasi, penyediaan alat pertanian, dan program pelatihan. Pemerintah Kabupaten Bangkalan menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, kementerian, serta petani merupakan kunci untuk menjaga ketahanan pangan dan mengurangi dampak sosial‑ekonomi dari El Nino “Godzilla”.
Dengan langkah‑langkah terstruktur ini, Bangkalan berharap dapat mempertahankan produksi pertanian, terutama padi, serta memastikan ketersediaan air bagi masyarakat selama periode kemarau panjang. Pemerintah daerah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif, mengingat keberhasilan penanggulangan El Nino sebelumnya pada tahun 2015, 2023, dan 2024 menjadi pelajaran penting dalam mengelola risiko iklim.


Komentar