Media Pendidikan – 19 April 2026 | Siswa-siswa di kawasan Kampung Baru, Medan, harus menempuh jalur berbahaya dengan melintasi pipa air utama setiap pagi demi mencapai sekolah, usai jembatan utama yang menghubungkan kediaman mereka ambruk dan belum dibangun kembali.
Jembatan yang runtuh itu sebelumnya menjadi akses utama bagi ratusan anak sekolah di wilayah tersebut. Tanpa perbaikan yang segera, warga terpaksa mencari alternatif. Karena pipa air distribusi kota melintasi sungai kecil di tengah kampung, para pelajar memutuskan untuk merangkak di atasnya, meski harus menahan rasa dingin dan risiko tergelincir.
“Siswa di Medan nekat lewati pipa air untuk ke sekolah,” demikian judul laporan yang menggambarkan keberanian mereka. Salah satu siswa, yang meminta anonim, mengaku, “Kami tidak punya pilihan lain, jadi tiap pagi kami harus menyeberangi pipa itu meski basah dan licin.”
Rute tersebut memakan waktu lebih lama dibandingkan sebelumnya, mengurangi waktu belajar dan meningkatkan kelelahan. Orang tua mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap prestasi akademik anak-anak mereka, sementara guru di sekolah melaporkan penurunan kehadiran dan konsentrasi di kelas.
Pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang setempat telah diinformasikan mengenai keadaan kritis ini. Namun hingga kini belum ada rencana konkrit untuk memperbaiki atau membangun kembali jembatan yang hancur. Warga menuntut percepatan proses rekonstruksi, mengingat pipa air tidak dirancang untuk menahan beban manusia secara terus‑menerus.
Keadaan ini menyoroti tantangan infrastruktur yang masih menghambat akses pendidikan di beberapa daerah perkotaan. Jika tidak segera diatasi, risiko kecelakaan atau gangguan suplai air dapat memperburuk situasi, menambah beban psikologis pada siswa yang sudah harus berjuang demi mendapatkan hak belajar.
Sejauh ini, komunitas setempat mencoba mengorganisir relawan untuk membantu mengawasi jalur tersebut, sekaligus menggalang dukungan melalui media sosial agar perhatian pemerintah lebih terfokus pada perbaikan infrastruktur pendidikan di Medan.


Komentar