Daerah
Beranda » Berita » Semangat Kartini di Pesisir: Ibu Eko Dorong Pemberdayaan Perempuan lewat Rengginang Laut

Semangat Kartini di Pesisir: Ibu Eko Dorong Pemberdayaan Perempuan lewat Rengginang Laut

Semangat Kartini di Pesisir: Ibu Eko Dorong Pemberdayaan Perempuan lewat Rengginang Laut
Semangat Kartini di Pesisir: Ibu Eko Dorong Pemberdayaan Perempuan lewat Rengginang Laut

Media Pendidikan – 23 April 2026 | Peringatan Hari Kartini tahun ini tidak sekadar menjadi simbol emansipasi, melainkan menginspirasi aksi nyata di pesisir pantai Jawa Tengah. Ibu Eko Purwanti, seorang nasabah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Pati, memanfaatkan peluang usaha olahan laut untuk memberdayakan perempuan setempat melalui produksi rengginang laut.

Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April menjadi momentum refleksi nilai ketangguhan, keberanian berpikir terbuka, dan semangat pantang menyerah. Nilai‑nilai itu kini terwujud dalam langkah Ibu Eko, yang menggabungkan tradisi kuliner pesisir dengan model usaha berbasis klaster.

Baca juga:

Ibu Eko, warga kelurahan Karangasem, Pati, memulai usaha kecil‑nya pada 2022 setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh PNM. Menggunakan hasil tangkapan ikan serta bahan baku lokal, ia memproduksi rengginang olahan laut yang dipadukan dengan varian rasa tradisional. Usaha ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan utama keluarganya, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi ibu‑ibu di sekitarnya.

Selain menjual rengginang, Ibu Eko mengembangkan layanan katering untuk acara komunitas dan pertemuan desa. Pendapatan dari kedua lini bisnis tersebut membantu menutupi kebutuhan pokok, sekaligus mendanai program sosial yang ia jalankan, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita yang berisiko gizi buruk.

“Saya berharap usaha ini bisa terus berjalan. Bukan hanya untuk menghidupi keluarga saya, tetapi juga agar ibu‑ibu di sekitar bisa memiliki penghasilan. Pelan‑pelan kita saling menguatkan dan maju bersama melalui klasterisasi olahan laut,” ujar Ibu Eko dalam wawancara pada 22 April 2026.

Baca juga:

Model klasterisasi yang diterapkan melibatkan tiga modal utama: intelektual melalui pelatihan usaha, finansial lewat akses pembiayaan PNM, dan sosial dengan penguatan kelompok produksi. Pendekatan ini memungkinkan perempuan membentuk jaringan produksi yang terstandarisasi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas pasar hingga ke kota‑kota tetangga.

PNM mencatat hingga kini telah melayani lebih dari 22,9 juta nasabah perempuan di seluruh Indonesia. Program khusus untuk wilayah pesisir menargetkan peningkatan pendapatan rumah tangga perempuan sebesar 15‑20 % dalam dua tahun ke depan, serta peningkatan akses pendidikan gizi bagi anak‑anak di daerah rawan.

Secara resmi, Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, menegaskan komitmen lembaga keuangan tersebut dalam mendampingi ibu‑ibu pesisir. “Kami hadir mendampingi ibu‑ibu di pesisir untuk tumbuh dan berdaya. Melalui hasil olahan laut, mereka tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu memberdayakan sesama dan tumbuh bersama,” ujarnya.

Baca juga:

Peluang dan Tantangan Kedepan

Keberhasilan Ibu Eko menjadi contoh konkret bahwa pemberdayaan berbasis produk lokal dapat mengatasi keterbatasan geografis. Namun, tantangan tetap ada, antara lain kebutuhan akan infrastruktur penyimpanan yang memadai, standar kebersihan produk, dan akses pasar yang lebih luas. PNM berencana menambah fasilitas penyimpanan berskala mikro serta mengadakan pameran produk olahan laut di tingkat provinsi untuk mempertemukan produsen dengan pembeli potensial.

Dengan dukungan pemerintah daerah, LSM, dan lembaga keuangan, diharapkan model serupa dapat direplikasi di pesisir lain, memperkuat jaringan ekonomi perempuan di Indonesia. Semangat Kartini yang bertransformasi menjadi aksi produktif di lapangan menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar slogan, melainkan motor penggerak pembangunan berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *