Ekonomi
Beranda » Berita » Rupiah Melemah: Menkeu Sebut ‘Noise’ Domestik Dorong Penurunan Nilai Tukar

Rupiah Melemah: Menkeu Sebut ‘Noise’ Domestik Dorong Penurunan Nilai Tukar

Rupiah Melemah: Menkeu Sebut ‘Noise’ Domestik Dorong Penurunan Nilai Tukar
Rupiah Melemah: Menkeu Sebut ‘Noise’ Domestik Dorong Penurunan Nilai Tukar

Media Pendidikan – 24 April 2026 | Jakarta, 24 April 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak semata disebabkan oleh faktor global, melainkan juga dipengaruhi oleh “noise” atau kebisingan di dalam negeri yang membentuk ekspektasi negatif pasar.

Dalam media briefing di Gedung Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Purbaya menjelaskan bahwa ekspektasi tersebut muncul karena banyak pihak menyebarkan pandangan bahwa perekonomian Indonesia semakin memburuk dan rupiah akan terus melemah. Ia menambahkan, “Noise (kebisingan) di dalam negeri itu yang membentuk ekspektasi. Jadi kita harus mengenalikan ekspektasi itu, tapi itu bukan wilayah saya jadi saya tidak bisa masuk ke sana.” Namun ia menegaskan bahwa tanggung jawab utama mengendalikan nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia.

Baca juga:

Purbaya menyoroti bahwa nilai tukar rupiah sempat menembus level terendah sepanjang masa, yaitu Rp17.300 per dolar AS pada Kamis lalu. Sejak saat itu, mata uang nasional perlahan menguat dan pada penutupan perdagangan hari ini mencapai Rp17.229 per dolar AS.

Bank Indonesia menanggapi situasi tersebut dengan meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam maupun luar negeri, serta membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Selain itu, BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro‑market untuk menjaga daya tarik aset domestik, terutama di tengah dampak berkelanjutan dari konflik di Timur Tengah.

Baca juga:

Purbaya menekankan bahwa pemerintah akan terus memperbaiki hambatan struktural yang mengganggu perekonomian, termasuk mengurangi “noise” dari dalam pemerintahan. Ia menilai, dengan kondisi fundamental yang masih solid, upaya memulihkan nilai tukar tidaklah rumit, asalkan ekspektasi pasar dapat dikelola secara tepat.

Secara keseluruhan, pernyataan Menkeu menegaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan fenomena multifaktorial, melibatkan faktor eksternal, ekspektasi domestik, dan peran kebijakan moneter. Upaya sinergi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia diharapkan dapat menstabilkan nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *