Media Pendidikan – 02 Juli 2026 | Rupiah Indonesia diprediksi akan terus melemah terhadap dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Menurut data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 0,24 persen atau 43 poin ke posisi Rp17.995 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.
Pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh sentimen negatif di pasar uang. Menurut Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, sentimen negatif tersebut berupa kasus korupsi, kekhawatiran akan kondisi fiskal pemerintah, inflasi yang meningkat, dan pengumuman MSCI terkait pasar modal Indonesia pada bulan November mendatang.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia, berdasarkan S&P Global, juga menurun ke zona kontraksi 46,9. Penyebab utama penurunan indeks adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia.
Lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating baru-baru ini merilis perkiraan akan cadangan devisa Indonesia. Lembaga itu menyebut cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan.
Penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya kondisi perdagangan. Kenaikan harga energi global, pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat rupiah, menjadi penyebabnya.
Dari faktor eksternal, perangkat CME FedWatch Tool memprakirakan probabilitas kenaikan suku bunga the Fed sebesar 67 persen. Sementara itu, data ketenagakerjaan dari Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan peningkatan penggajian tenaga kerja swasta. Data ADP mencatat penggajian di sektor swasta pada bulan Juni meningkat 98 ribu, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 113 ribu.
Pembicaraan negosiasi antara AS-Iran di Doha dikabarkan berlangsung positif. Keduanya negara membahas lalu lintas di Selat Hormuz dan pencairan dana milik Iran. Meskipun demikian, sentimen negatif di pasar uang masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi nilai tukar rupiah.


Komentar