Media Pendidikan – 26 April 2026 | Jakarta, – Rektor Universitas Paramadina menyampaikan keprihatinannya terkait rencana Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) untuk menutup program studi (prodi) yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan industri. Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan upaya pemerintah menilai kesesuaian kurikulum perguruan tinggi dengan pasar kerja.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Rektor Paramadina menegaskan pentingnya keterkaitan antara program akademik dan dunia usaha. Ia mengingatkan, “Jika prodi tidak relevan dengan industri, ada risiko penutupan”. Menurutnya, penutupan program studi bukan sekadar keputusan administratif, melainkan dapat menimbulkan konsekuensi luas bagi mahasiswa, tenaga pengajar, serta reputasi institusi.
Rector menambahkan bahwa universitas harus proaktif dalam menyesuaikan kurikulum, meningkatkan kerja sama dengan perusahaan, serta melibatkan praktisi industri dalam perancangan mata kuliah. Ia mencontohkan bahwa beberapa program yang sudah mengintegrasikan magang dan proyek berbasis industri berhasil meningkatkan tingkat penyerapan lulusan oleh perusahaan.
Berita mengenai kebijakan penutupan prodi yang tidak relevan ini pertama kali muncul dalam agenda rapat koordinasi Kemdikbudristek. Meskipun tidak disebutkan angka pasti, pemerintah mengindikasikan bahwa evaluasi akan mencakup sejumlah program di berbagai perguruan tinggi. Rektor Paramadina menekankan bahwa proses evaluasi harus transparan dan melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk dosen, mahasiswa, serta perwakilan industri.
Selain menyoroti risiko penutupan, Rektor juga mengajak institusi pendidikan tinggi lain untuk memanfaatkan momentum ini sebagai peluang perbaikan. Ia menyarankan langkah-langkah konkret seperti pembentukan tim peninjau kurikulum internal, penyusunan indikator relevansi industri, serta penguatan jaringan kemitraan dengan sektor swasta. “Kita tidak boleh menunggu keputusan akhir, melainkan harus mempersiapkan diri sejak kini,” ujarnya.
Pengamatan terhadap tren pasar kerja menunjukkan bahwa sektor-sektor tertentu, seperti teknologi informasi, energi terbarukan, dan kesehatan, terus membutuhkan tenaga kerja yang terampil dan adaptif. Oleh karena itu, program studi yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan tersebut memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.
Dalam konteks nasional, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan serta mengurangi kesenjangan antara pendidikan tinggi dan dunia kerja. Namun, Rektor Paramadina memperingatkan bahwa penutupan prodi tanpa dukungan transisi yang memadai dapat menimbulkan beban berat bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan.
Sejauh ini, Universitas Paramadina belum mengumumkan program studi mana yang akan mengalami penyesuaian khusus. Namun, universitas berkomitmen untuk melakukan evaluasi internal dan melaporkan hasilnya kepada pihak berwenang. Rektor menutup pernyataannya dengan harapan agar seluruh perguruan tinggi bersama pemerintah dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang responsif, inovatif, dan berkelanjutan.


Komentar