Media Pendidikan – 16 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026 – Pemerintah Indonesia menargetkan pemanfaatan potensi ekspor durian dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dengan nilai mencapai US$58,33 juta atau sekitar Rp875 miliar. Upaya ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan pendapatan agrikultur serta menempatkan produk unggulan Indonesia di pasar internasional.
Durian Parigi Moutong dikenal memiliki cita rasa khas, daging buah yang lemak dan aroma yang kuat, menjadikannya pilihan utama bagi konsumen di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Menurut data Kementerian Perdagangan, daerah ini menghasilkan sekitar 1,5 juta kilogram durian per tahun, dengan sebagian besar diproses menjadi beku atau dijual segar ke pasar domestik. Dengan dukungan infrastruktur logistik baru, termasuk pelabuhan perikanan yang diperluas dan fasilitas cold chain, pemerintah berharap dapat menyalurkan produksi ke pasar luar negeri secara lebih efisien.
“Potensi ekspor durian Parigi Moutong sangat besar, terutama ke negara-negara yang memiliki permintaan tinggi seperti Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi,” ujar Direktur Direktorat Perdagangan Non‑Migas, Budi Santoso, dalam rapat koordinasi yang digelar di Jakarta pada 10 April 2026. Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah merancang program insentif bagi petani dan pelaku usaha yang berkomitmen menyiapkan produk dengan standar internasional.
Rencana ekspor ini tidak lepas dari tantangan kualitas dan sertifikasi. Untuk memenuhi persyaratan fit‑and‑fresh market, petani diwajibkan menerapkan sistem manajemen mutu GAP (Good Agricultural Practices) serta memperoleh sertifikasi Phytosanitary. Pemerintah melalui Badan Karantina Pertanian (BKP) telah menyiapkan pelatihan intensif bagi petani setempat, termasuk teknik pemilihan bibit unggul, pengendalian hama secara terintegrasi, dan penanganan pasca panen yang meminimalkan kerusakan.
Secara geografis, Kabupaten Parigi Moutong memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang stabil, sehingga memungkinkan produksi durian sepanjang tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sejak 2022 produksi durian di wilayah ini meningkat rata-rata 12 persen per tahun. Pertumbuhan ini dipicu oleh peningkatan luas tanam dan adopsi teknologi pertanian modern, seperti sistem irigasi tetes dan penggunaan pupuk organik.
Selain nilai ekspor, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja. Diperkirakan lebih dari 8.000 tenaga kerja langsung terlibat dalam penanaman, pemeliharaan, hingga pengolahan durian. Dampak ekonomi multiplier diproyeksikan dapat menambah pendapatan daerah sebesar 4,5 persen dari total PDRB Kabupaten Parigi Moutong pada tahun fiskal 2026.
Pengembangan pasar juga melibatkan kerja sama dengan perusahaan logistik internasional. Salah satu kontrak penting telah ditandatangani dengan perusahaan pengiriman beku asal Belanda, yang akan menangani distribusi durian beku ke Eropa. Kesepakatan ini diharapkan memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar premium.
Ke depan, pemerintah berencana mengadakan pameran agrikultur internasional pada akhir 2026, dengan menampilkan durian Parigi Moutong sebagai produk unggulan. Acara tersebut akan menjadi ajang promosi bagi investor dan pembeli luar negeri, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai produsen buah tropis berkualitas tinggi.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan teknologi, dan komitmen petani, potensi ekspor durian Parigi Moutong yang senilai US$58,33 juta bukan lagi sekadar angka, melainkan peluang nyata untuk menggerakkan ekonomi daerah dan memperkuat posisi Indonesia di pasar buah dunia.


Komentar