Media Pendidikan – 02 April 2026 | Harga plastik yang menjadi bahan utama pembungkus makanan di kaki lima Jakarta Timur melambung tajam dalam beberapa pekan terakhir, memaksa para pedagang menimbang antara menaikkan harga jual atau menanggung kerugian. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan di kawasan Jatinegara, tetapi juga mencerminkan dampak global dari konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan bahan baku plastik.
Raden Arka, 29 tahun, pedagang nasi goreng di Jatinegara, mengaku bahwa harga plastik yang biasanya ia beli sekitar Rp 10.000‑25.000 kini melonjak menjadi Rp 12.000‑30.000. “Kalau saya pribadi, nasi goreng sudah tertera daftar harganya, jadi enggak tahu ke depannya ya. Kalau sekiranya kayak gini terus ya mungkin bisa jadi naik,” ujarnya pada Rabu (1/4/2026). Arka menilai margin keuntungan per porsi makanannya sangat tipis, hanya antara Rp 500 hingga Rp 1.000, sehingga tambahan biaya plastik menggerus laba secara signifikan. Ia menambahkan, “Kalau saya susah mencari alternatif selain plastik, soalnya plastik itu ibaratnya bahan pokok. Sudah terlalu ketergantungan sama plastik.”
Berbeda dengan Arka, Parti, 57 tahun, penjual pecel lele di lokasi yang sama, memilih menahan kenaikan harga jual demi mempertahankan pelanggan. “Kami tidak bisa naik, soalnya harga biasa aja yang beli kurang. Jadi kami tetap bertahan segitu‑segitu,” katanya. Parti menilai bahwa kehilangan pelanggan akan lebih merugikan daripada mengambil keuntungan tipis. Ia menyoroti bahwa penurunan penjualan selama bulan Ramadan memperparah beban, dengan harga plastik yang naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000 dalam waktu singkat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengonfirmasi bahwa lonjakan harga plastik berhubungan erat dengan naiknya harga biji plastik yang bersumber dari BBM. “Saya dengar biji plastiknya juga naiknya luar biasa, karena plastik itu kan dari BBM,” ujarnya saat ditemui di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada 28 Maret 2026. Menurutnya, kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan lonjakan tajam yang memerlukan penanganan khusus.
Fenomena serupa juga terlihat di kota lain. Di Surabaya, pedagang plastik melaporkan kenaikan hingga 40 persen sejak Lebaran, dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Meskipun konteks pasar berbeda, dampak pada pedagang kecil serupa: biaya operasional naik, sementara daya beli konsumen masih tertekan oleh inflasi umum.
Para pedagang kaki lima kini menghadapi dilema strategis. Beberapa mencoba menekan biaya dengan mencari alternatif kemasan, namun pilihan tersebut seringkali mahal atau kurang praktis. Lainnya mengandalkan efisiensi operasional, seperti mengurangi porsi atau mengoptimalkan bahan baku makanan. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang konkret, beban tambahan ini dapat memperparah ketidakstabilan ekonomi mikro di sektor informal.
Secara makro, kenaikan harga plastik mencerminkan keterkaitan rantai pasok global dengan kondisi domestik. Konflik di Timur Tengah meningkatkan harga minyak, yang pada gilirannya mendorong biaya produksi biji plastik. Dampaknya menular ke sektor makanan, transportasi, dan konsumen akhir. Pemerintah diharapkan dapat mengintervensi melalui subsidi bahan baku atau insentif bagi inovasi kemasan ramah lingkungan, guna meringankan beban pedagang kecil.
Kesimpulannya, kenaikan harga plastik menempatkan pedagang makanan di Jakarta Timur pada posisi yang sulit: menaikkan harga jual berisiko kehilangan pelanggan, sementara menahan harga memperkecil margin yang sudah tipis. Tanpa solusi kebijakan yang mendukung, fenomena ini berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi di antara pelaku usaha mikro.


Komentar