Media Pendidikan – 17 April 2026 | China mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, melampaui perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 4,8 persen. Data resmi pemerintah ini dirilis pada Jumat, 17 April, dan menjadi sorotan utama di tengah gejolak yang dipicu oleh perang di Iran.
Para analis menilai bahwa pencapaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi negara tirai bambu meski dihadapkan pada tekanan global, khususnya gangguan pasokan energi akibat konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026. Sektor manufaktur menjadi motor penggerak utama, dengan peningkatan produksi barang serta ekspor kendaraan dan produk industri yang memberikan kontribusi signifikan.
“Ekspor mobil dan ekspor lainnya merupakan titik terang utama dalam data tersebut,” kata Kyle Chan, peneliti di Brookings Institution. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ekspor tersebut membantu menyeimbangkan penurunan pertumbuhan ekspor keseluruhan yang melambat menjadi 2,5 persen pada Maret 2026.
Namun, tantangan tetap muncul dari dalam negeri. Sektor properti masih mengalami pelemahan, sementara konsumsi domestik belum kembali ke level pra‑pandemi. Di sisi eksternal, perang Iran mulai menekan perdagangan internasional. Harga energi global naik akibat ancaman terhadap Selat Hormuz, yang meningkatkan inflasi dan biaya produksi di China.
Impor China naik hampir 28 persen pada periode yang sama, menurunkan surplus perdagangan menjadi sekitar 50 miliar dolar AS, level terendah dalam lebih dari setahun. Ekonom Yixiao Zhou dari Australian National University mengingatkan bahwa dampak konflik belum sepenuhnya terasa dan dapat menurunkan kinerja ekonomi pada kuartal berikutnya. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekspor sangat tergantung pada kondisi ekonomi mitra dagang.
Selain faktor geopolitik, China juga harus menghadapi tekanan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Tarif 10 persen terhadap produk China masih berlaku dan berpotensi naik kembali, menambah beban pada sektor eksportir.
Pemerintah China sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini antara 4,5 hingga 5 persen. Untuk mencapainya, otoritas berfokus pada transformasi ekonomi melalui investasi di bidang teknologi, peningkatan konsumsi domestik, serta dukungan kepada sektor manufaktur yang terbukti resilient.
Secara keseluruhan, pencapaian pertumbuhan 5 persen pada kuartal pertama menegaskan kemampuan ekonomi China untuk tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian global. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Iran, kebijakan tarif AS, serta pemulihan sektor properti dan konsumsi dalam negeri.


Komentar