Uncategorized
Beranda » Berita » Pergulatan Antara Keuntungan, Keberkahan, Kemaslahatan, dan Mafsadah

Pergulatan Antara Keuntungan, Keberkahan, Kemaslahatan, dan Mafsadah

Pergulatan Antara Keuntungan, Keberkahan, Kemaslahatan, dan Mafsadah
Pergulatan Antara Keuntungan, Keberkahan, Kemaslahatan, dan Mafsadah

Media Pendidikan – 01 Juni 2026 | Foto: Aslamuddin LasawedyASAP tipis membumbung tinggi di langit Kalimantan ketika hutan kembali terbakar. Di kejauhan, suara mesin ekskavator terdengar seperti geraman zaman modern yang tak pernah benar-benar tidur. Pohon-pohon tumbang satu per satu, tanah dibelah demi tambang, dan sungai berubah warna seperti luka yang perlahan membusuk. Ironisnya, semua itu terjadi ketika dunia sedang merayakan pertumbuhan ekonominya yang tinggi.

Di ruang-ruang konferensi internasional, grafik investasi dipresentasikan dengan penuh optimisme. Angka pertumbuhan dipuji seperti puisi kemenangan. Negara-negara berlomba meningkatkan produksi, konsumsi, dan ekspansi industri. Namun di balik tepuk tangan ekonomi global itu, bumi diam-diam menanggung beban yang semakin berat.

Baca juga:

Inilah paradoks terbesar peradaban modern, dimana manusia berhasil memperkaya dirinya, namun sering gagal menjaga keberlangsungan ekosistem lingkungan hidupnya.

Memang ekonomi konvensional modern dibangun di atas fondasi rasionalitas dan akumulasi keuntungan. Dalam paradigma kapitalisme, keberhasilan diukur melalui efisiensi, pertumbuhan, dan maksimalisasi laba. Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh, maka individu atau perusahaan akan dianggap semakin berhasil.

Sejarah modern memperlihatkan bahwa pasar tidak selalu memiliki hati nurani. Krisis finansial global 2008 menjadi salah satu bukti paling telanjang tentang bagaimana kerakusan manusia dapat menghancurkan sistem ekonomi dunia.

Baca juga:

Nama-nama besar di dunia, menjual instrumen spekulatif berisiko tinggi demi keuntungan jangka pendek. Ketika gelembung ekonomi pecah, jutaan orang kehilangan rumah, pekerjaan, dan tabungan hidupnya. Lembaga keuangan runtuh seperti istana pasir yang diterjang ombak.

Ekonom peraih Nobel, Stiglitz (2010), menyebut krisis tersebut sebagai kegagalan moral sekaligus kegagalan pasar, lantaran sistem ekonomi yang ada terlalu memuja keuntungan. Sehingga akhirnya kehilangan kemampuannya membedakan antara pertumbuhan dan keserakahan.

Dalam konteks ini, ekonomi Islam menawarkan horizon yang berbeda. Jika ekonomi konvensional sering bertanya "berapa besar keuntungan yang diperoleh?", maka ekonomi Islam bertanya lebih jauh lagi "apakah keuntungan itu membawa keberkahan dan kemaslahatan?"

Baca juga:

Ekonomi Islam memandang manusia bukan sekadar makhluk ekonomi (homo economicus), pun juga dipandang sebagai makhluk spiritual dan bermoral. Sehingga dalam aktivitas ekonomi manusia, tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab terhadap Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Konsep sentral dalam ekonomi Islam adalah maslahah, dimana segala sesuatu sudah semestinya menghadirkan manfaat kolektif dan menjaga keberlangsungan kehidupan manusia.

Islam tidak hanya melarang riba karena persoalan bunga semata, pun juga terlarang lantaran dampak sosialnya dapat memperbesar eksploitasi dan ketimpangan ekonomi. Islam juga mengecam penimbunan kekayaan, manipulasi pasar, hingga konsumsi berlebihan (isrāf), lantaran semua itu berpotensi merusak keseimbangan sosial.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *