Media Pendidikan – 31 Mei 2026 | Pendidikan seringkali dianggap sebagai ruang netral yang bertugas membentuk pengetahuan, keterampilan, dan karakter peserta didik tanpa memihak nilai tertentu. Namun, pada kenyataannya pendidikan tidak pernah sepenuhnya netral karena selalu dipengaruhi oleh nilai sosial, budaya, dan struktur kekuasaan yang hidup dalam masyarakat.
Salah satu nilai yang masih kuat direproduksi melalui pendidikan adalah pandangan yang membedakan peran laki-laki dan perempuan. Bias gender dalam pendidikan muncul dalam berbagai bentuk yang tampak sederhana namun berdampak besar terhadap cara berpikir peserta didik. Mulai dari isi buku pelajaran, contoh kalimat, ilustrasi, hingga interaksi di lingkungan sekolah, semuanya dapat mengandung pembagian peran berdasarkan gender.
“Pendidikan bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan cara berpikir peserta didik,” kata seorang ahli. Isi kurikulum mencerminkan nilai yang dianggap penting oleh masyarakat, sehingga pendidikan tidak pernah benar-benar bebas dari kepentingan sosial dan budaya tertentu.
Bias gender dalam pendidikan dapat terlihat dari isi buku pelajaran yang masih menggambarkan laki-laki dan perempuan dalam peran yang berbeda. Perempuan sering ditampilkan sebagai sosok yang mengurus urusan domestik, seperti memasak, membersihkan rumah, atau pergi ke pasar, sedangkan laki-laki digambarkan bekerja, menjadi pemimpin, dan melakukan pekerjaan yang dianggap lebih kuat.
Padahal, kondisi masyarakat saat ini sudah banyak berubah. Banyak perempuan mampu bekerja di bidang yang selama ini dianggap identik dengan laki-laki, seperti polisi, tentara, maupun pemimpin perusahaan. Di sisi lain, laki-laki juga banyak yang berprofesi sebagai chef, perawat, guru, atau terlibat aktif dalam pengasuhan anak.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk mengurangi bias gender dalam pendidikan melalui evaluasi dan revisi kurikulum serta buku ajar agar lebih menampilkan representasi gender yang setara dan tidak stereotipikal. Guru juga perlu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dengan tidak membedakan perlakuan berdasarkan gender serta memberikan contoh bahwa setiap individu memiliki potensi yang sama.


Komentar