Media Pendidikan – 21 Juni 2026 | Baru-baru ini, media sosial diramaikan dengan konten parodi oleh beberapa kreator konten yang menirukan kondisi penyandang disabilitas. Banyak orang yang beranggapan bahwa parodi disabilitas hanyalah sebagai hiburan, tetapi sebagian dari pengguna media sosial juga mengkritik karena dinilai tidak empati dan merendahkan kelompok penyandang disabilitas.
Fenomena ini memicu pertanyaan yang mendasar terhadap masyarakat yang menganggap disabilitas sebagai bahan candaan. Kontroversi muncul ketika ramainya konten kreator yang membuat video meniru cara bicara, cara berjalan, maupun kondisi fisik yang identik dengan penyandang disabilitas.
“Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membentuk pemahaman siswa tentang realitas sosial,” kata seorang ahli. “Seringkali sekolah mengutamakan prestasi akademik dengan mengorbankan empati sosial. Akibatnya, siswa boleh jadi memahami konsep disabilitas secara teoritis, tetapi kurang peka terhadap pengalaman hidup kelompok disabilitas.”
Sebagai masyarakat, kita harus menyadari bahwa sesuatu yang tampak lucu bagi beberapa orang dapat menjadi bentuk penghinaan bagi orang lain. Kita harus memahami bahwa disabilitas bukanlah sesuatu yang patut ditertawakan, melainkan sesuatu yang harus dihormati dan dipahami.


Komentar