Media Pendidikan – 06 Juni 2026 | Ika Natassa, salah satu penulis papan atas Indonesia, baru-baru ini membahas tentang kesejahteraan penulis dan tantangan literasi di Indonesia. Ia dikenal sebagai penulis novel-novel populer seperti Critical Eleven, Twivortiare, dan Antologi Rasa.
Dalam konferensi pers bersama rumah produksi Avarta Media, Ika Natassa mengungkapkan bahwa novel-novelnya yang diangkat ke layar lebar merupakan hasil dari perjuangannya dalam dunia penulisan. Ia juga menekankan pentingnya kesejahteraan penulis dan perlindungan hak cipta.
Ika Natassa bersama penulis Indonesia lainnya telah memperjuangkan nasib penulis yang dibebankan pajak royalti yang tinggi. Perjuangan itu membuahkan hasil setelah pemerintah mengumumkan insentif pajak bagi para penulis. Khususnya penulis buku yang bukunya memiliki International Standard Book Number (ISBN).
"Kita bilang, enggak akan ada penerbit kalau enggak ada penulis, enggak akan ada percetakan kalau enggak ada penulis. Enggak akan ada toko buku kalau enggak ada penulis, bahkan mungkin enggak akan ada film kalau enggak ada penulis," ujar Ika.
Ika Natassa juga mengungkapkan keprihatinannya tentang minimnya budaya membaca buku di Indonesia. Rasio antara jumlah penduduk Indonesia dengan buku yang dibaca angkanya masih sangat kecil. Menurutnya, dari sekitar 278 juta penduduk Indonesia, buku yang terjual baru sekitar 16 juta eksemplar.
"Ini yang menjadi ‘concern’ kita bersama, kenapa orang Indonesia belum banyak baca buku. Kenapa belum banyak karya yang hadir," ucap Ika.


Komentar