Ekonomi
Beranda » Berita » Pendapatan Industri Gaming Asia Tenggara Diproyeksikan Mencapai US$7,1 Miliar pada 2028

Pendapatan Industri Gaming Asia Tenggara Diproyeksikan Mencapai US$7,1 Miliar pada 2028

Pendapatan Industri Gaming Asia Tenggara Diproyeksikan Mencapai US$7,1 Miliar pada 2028
Pendapatan Industri Gaming Asia Tenggara Diproyeksikan Mencapai US$7,1 Miliar pada 2028

Media Pendidikan – 10 April 2026 | Perusahaan pemasaran gim terintegrasi Ampverse mengeluarkan laporan terbaru yang menilai potensi pertumbuhan industri gaming di kawasan Asia Tenggara. Menurut data yang dirilis, total pendapatan pasar game regional diperkirakan akan naik menjadi US$7,1 miliar pada akhir 2028, meningkat tajam dibandingkan nilai saat ini.

Proyeksi pertumbuhan hingga 2028

Laporan Ampverse mengestimasikan bahwa nilai pasar gaming di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata sebesar 12,5 % per tahun selama periode 2024‑2028. Pada 2023, pendapatan total diperkirakan berada di kisaran US$4,0 miliar, sehingga lonjakan hingga US$7,1 miliar mencerminkan tambahan hampir US$3,1 miliar dalam empat tahun ke depan.

Baca juga:

Faktor pendorong utama

Beberapa faktor dianggap menjadi motor penggerak pertumbuhan ini. Pertama, penetrasi smartphone yang terus meningkat, dengan lebih dari 70 % populasi dewasa di wilayah tersebut kini memiliki perangkat seluler yang mendukung game mobile. Kedua, adopsi teknologi 5G memperluas kemampuan streaming game dan pengalaman real‑time multiplayer, sehingga menarik lebih banyak pemain dan pengembang.

Ketiga, perubahan perilaku konsumen pasca‑pandemi menambah waktu luang dan minat pada hiburan digital. Data internal menunjukkan rata-rata pemain menghabiskan 9‑10 jam per minggu pada platform game, naik 15 % dibandingkan tahun sebelumnya. Keempat, dukungan kebijakan pemerintah, terutama program insentif pajak dan pendanaan startup game di negara‑negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina, memperkuat ekosistem lokal.

Baca juga:

Segmentasi pasar

Analisis segmen mengidentifikasi game mobile sebagai kontributor terbesar, menyumbang lebih dari 60 % total pendapatan pada 2028. Game PC dan konsol diperkirakan tetap stabil, sementara sektor esports mengalami pertumbuhan paling cepat dengan CAGR sekitar 18 % berkat peningkatan sponsor, turnamen regional, dan platform siaran digital.

Implikasi bagi investor dan pengembang

Proyeksi ini membuka peluang investasi signifikan bagi venture capital dan perusahaan teknologi global yang ingin memperluas jejak di Asia Tenggara. Pengembang lokal diharapkan dapat memanfaatkan dana yang mengalir untuk meningkatkan kualitas produksi, mengadopsi model “live‑ops” yang berkelanjutan, serta memperluas ke pasar internasional melalui distribusi digital.

Baca juga:

Di sisi lain, kompetisi yang semakin ketat menuntut inovasi dalam monetisasi, seperti model free‑to‑play dengan micro‑transactions yang responsif terhadap regulasi perlindungan konsumen. Ampverse menekankan pentingnya kolaborasi lintas‑industri antara pembuat konten, penyedia jaringan, dan regulator untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, laporan tersebut menegaskan bahwa Asia Tenggara berada pada posisi strategis untuk menjadi pusat pertumbuhan gaming global dalam dekade berikutnya. Dengan dukungan infrastruktur, kebijakan yang kondusif, dan basis pemain yang terus meluas, target pendapatan US$7,1 miliar pada 2028 tampak realistis dan menjadi indikator kuat bagi semua pemangku kepentingan industri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *