Media Pendidikan – 14 April 2026 | Paus Leo XIV mengunjungi Masjid Agung Algiers, atau Djamaa El Djazair, pada Senin, 13 April 2026. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Imam Besar Masjid, Mohammed Al-Mamoun Al-Qasimi Al-Hassani, dan menjadi sorotan utama dalam rangkaian tur 11 hari di Afrika yang dijalani sejak ia menjabat sebagai pemimpin Gereja Katolik.
Tur Afrika Paus dimulai dari Roma pada pagi hari Senin, dengan Algiers menjadi tujuan pertama. Agenda resmi di Aljazair mencakup penghormatan kepada para korban perang kemerdekaan 1954‑1962 di Monumen Para Martir, pertemuan dengan Presiden Abdelmadjid Tebboune, serta diskusi dengan pejabat pemerintah dan delegasi diplomatik setempat. Setelah itu, Paus dijadwalkan mengunjungi Masjid Agung Algiers dan Basilika Bunda Maria Afrika sebelum melanjutkan perjalanan ke Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa.
Di dalam masjid, Paus dan Imam Besar berkeliling sambil mengamati arsitektur interior yang megah. Paus melepas sepatunya sebelum memasuki ruang utama, sebuah tindakan yang menegaskan rasa hormatnya terhadap tradisi Islam. Selama tur, ia menatap detail kaligrafi, menilai keindahan ukiran, dan berinteraksi dengan petugas masjid yang menyambutnya dengan hangat.
“Perjalanan ini bertujuan untuk terus membangun jembatan antara dunia Kristen dan Muslim,” ujar Uskup Agung Aljazair, Jean‑Paul Vesco, menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan upaya konkret untuk memperdalam pemahaman lintas agama.
Paus Leo XIV juga berencana melakukan doa pribadi di sebuah kapel khusus yang didedikasikan bagi 19 imam dan biarawati yang tewas dalam konflik sipil Aljazair (1992‑2002). Total jarak tempuh tur luar negeri pertama Paus diperkirakan mencapai sekitar 18.000 kilometer, dan rombongan diharapkan kembali ke Vatikan pada 23 April 2026.
Kunjungan ke Masjid Agung Algiers menandai momen penting dalam diplomasi agama, menegaskan komitmen Paus untuk memperkuat dialog interfaith di wilayah yang memiliki sejarah panjang pertemuan budaya. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang kerjasama lebih luas antara komunitas Kristen dan Muslim, tidak hanya di Aljazair tetapi juga di seluruh Afrika.


Komentar