Media Pendidikan – 29 Mei 2026 | Di banyak desa, sekolah berdiri cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Anak-anak berangkat pagi menggunakan seragam, membawa tas, dan pulang menjelang siang seperti gambaran pendidikan pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, ada kenyataan yang sering luput dibicarakan: tidak semua anak desa benar-benar memiliki kesempatan pendidikan yang sama.
Ilustrasi koper bekas diubah menjadi panel di sekolah dasar. Foto: Dok. Istimewa
Banyak anak desa tumbuh dengan mimpi yang sederhana. Mereka ingin kuliah, ingin mengubah nasib keluarga, atau sekadar ingin membuktikan bahwa anak kampung juga mampu bersaing. Akan tetapi, mimpi-mimpi itu sering kali harus berhadapan dengan kenyataan ekonomi.
Ironisnya, semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, justru kemiskinan itu yang membuat banyak anak desa sulit melanjutkan pendidikan. Mereka diajarkan untuk bermimpi tinggi, tetapi tidak diberi tangga yang cukup untuk mencapainya.
Salah satu remaja desa, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan, "Saya ingin kuliah, tapi saya harus bekerja setelah lulus sekolah. Orang tua saya tidak bisa membantu saya dengan biaya kuliah."
Keadaan ini diperparah oleh lingkungan sosial yang lebih menekankan "cepat bekerja" dibanding "melanjutkan pendidikan." Dalam beberapa kondisi, anak yang bekerja setelah lulus dianggap lebih realistis dibanding anak yang memilih kuliah. Akibatnya, pendidikan tinggi perlahan kehilangan nilai penting dalam pandangan sebagian masyarakat pedesaan.
Pada akhirnya, pendidikan di pedesaan bukan hanya soal ada atau tidaknya sekolah. Persoalan utamanya adalah apakah setiap anak benar-benar diberi kesempatan yang setara untuk berkembang dan mencapai masa depan yang lebih baik.


Komentar