Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Pakar Offroad Kritis: Torsi Liar Motor Trail Listrik MBG Bisa Jadi Bumerang Bagi Petugas Awam

Pakar Offroad Kritis: Torsi Liar Motor Trail Listrik MBG Bisa Jadi Bumerang Bagi Petugas Awam

Pakar Offroad Kritis: Torsi Liar Motor Trail Listrik MBG Bisa Jadi Bumerang Bagi Petugas Awam
Pakar Offroad Kritis: Torsi Liar Motor Trail Listrik MBG Bisa Jadi Bumerang Bagi Petugas Awam

Media Pendidikan – 10 April 2026 | Keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) yang membekali para Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) dengan motor trail listrik sebagai armada operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu gelombang kritik tajam. Motor yang dirancang untuk medan off‑road ini dipilih karena ramah lingkungan, namun muncul pertanyaan serius mengenai keamanan bagi petugas awam yang tidak terbiasa mengendarainya.

Pernyataan Pakar Offroad

Dr. Budi Santoso, pakar kendaraan off‑road dan dosen Fakultas Teknik, menilai bahwa motor trail listrik MBG memiliki “torsi liar” yang dapat berakibat fatal. Ia menjelaskan, “Motor listrik menghasilkan torsi maksimum sejak awal putaran, tanpa jeda seperti mesin bensin. Jika tidak dikendalikan, percepatan mendadak dapat membuat pengendara kehilangan kontrol, terutama pada permukaan jalan basah atau berpasir yang umum di area distribusi MBG.”

Baca juga:

Risiko Teknis bagi Petugas

Berbeda dengan motor konvensional, motor trail listrik umumnya tidak dilengkapi transmisi multi‑speed. Tanpa pilihan gigi, pengendara bergantung pada sistem pengaturan elektronik untuk mengatur tenaga. Pada kendaraan yang dipakai oleh petugas awam, terutama yang belum menjalani pelatihan intensif, potensi terjadinya slip, over‑steer, atau bahkan tumble menjadi lebih tinggi.

Selain itu, torsi tinggi dapat menyebabkan beban berlebih pada komponen suspensi dan rem, yang pada gilirannya meningkatkan jarak pengereman. Situasi ini berisiko besar ketika motor digunakan di zona pemukiman padat atau area sekolah, di mana interaksi dengan pejalan kaki dan kendaraan lain tak terhindarkan.

Reaksi Pihak Terkait

BGN berargumen bahwa motor listrik mempercepat distribusi makanan bergizi sekaligus mengurangi emisi karbon. Namun, pernyataan tersebut belum disertai dengan rencana pelatihan khusus atau penyesuaian regulasi yang mengatur batas kecepatan dan penggunaan torque limiter pada kendaraan tersebut.

Baca juga:

Pihak kepolisian setempat menyatakan kesediaannya membantu pengamanan, namun menegaskan perlunya prosedur standar operasional yang mengutamakan keselamatan. “Kami siap mendampingi, tetapi tanpa prosedur yang jelas, kami justru berpotensi menjadi korban,” ujar seorang komandan Polisi Pamong Praja.

Usulan Solusi

Para ahli keselamatan merekomendasikan beberapa langkah mitigasi: pertama, program pelatihan intensif bagi semua pengendara MBG yang mencakup teknik pengereman darurat dan manajemen torsi; kedua, pemasangan speed governor atau torque limiter yang membatasi output maksimum pada kondisi tertentu; ketiga, evaluasi ulang pemilihan kendaraan, dengan mempertimbangkan alternatif motor listrik berkapasitas lebih rendah atau kendaraan roda tiga yang lebih stabil.

Jika rekomendasi ini diimplementasikan, potensi motor trail listrik sebagai “bumerang” dapat diminimalisir, sekaligus menjaga tujuan utama MBG yaitu penyediaan makanan bergizi secara aman dan efisien.

Baca juga:

Secara keseluruhan, keputusan BGN menunjukkan niat baik dalam mengadopsi teknologi hijau, namun tanpa penyesuaian teknis dan pelatihan yang memadai, torsi liar motor trail listrik berpotensi menimbulkan bahaya bagi petugas awam yang menjadi ujung tombak program. Diperlukan sinergi antara regulator, pakar teknis, dan aparat keamanan untuk memastikan bahwa inovasi tidak berbalik menjadi risiko.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *