Media Pendidikan – 27 Mei 2026 | Idul Adha sering kali terjebak dalam keriuhan simbolik, tetapi di balik itu, tersimpan sebuah esensi radikal yang sering terlupakan, yakni ‘pengorbanan‘ itu sendiri.
Ketika dunia semakin pragmatis dan individualistis, reinterpretasi terhadap makna pengorbanan menjadi sebuah keniscayaan.
Secara historis, kisah Nabi Ibrahim dan Ismail bukan sekadar drama teologis tentang ketaatan, melainkan kritik tajam terhadap ego manusia.
Mengambil inspirasi dari kisah tersebut, Idul Adha seharusnya melampaui prosesi memotong leher hewan dan menjadi momentum bagi kita untuk memugar kembali niat.
Berkurban di era sekarang seharusnya melibatkan keberanian untuk menyembelih ego sektoral demi kepentingan publik.
Pengorbanan berarti kerelaan untuk ‘membunuh’ rasa paling benar sendiri demi terjalinnya dialog yang sehat.
Reinterpretasi makna pengorbanan juga harus menyentuh dimensi sistemik, dari charity-based sacrifice menuju empowerment-based sacrifice.


Komentar