Media Pendidikan – 17 April 2026 | Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melaporkan bahwa hingga 31 Desember 2025, Program Penugasan Khusus (PKE) telah disalurkan sebesar Rp13,48 triliun secara nasional. Dari total tersebut, provinsi Jawa Timur menyerap hampir satu perempat, yakni sekitar Rp9 triliun.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman, menegaskan bahwa tingginya penyerapan dana di Jawa Timur sejalan dengan intensitas aktivitas industri manufaktur dan perdagangan di wilayah tersebut. Ia menyebut, “Jawa Timur kini menjadi kontributor utama PKE, dengan 61 pelaku usaha memanfaatkan fasilitas ini untuk menembus pasar luar negeri.”
Data LPEI mencatat bahwa 61 perusahaan di Jawa Timur telah menerima pembiayaan melalui PKE, sehingga produk‑produk lokal berhasil diekspor ke lebih dari 30 negara. Hal ini memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa nasional, yang tercatat melebihi Rp37,06 triliun berkat program tersebut.
Skala Nasional dan Komoditas Utama
Secara keseluruhan, pemerintah menyalurkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp13,7 triliun untuk mendukung PKE, dengan realisasi penyaluran mencapai lebih dari Rp13,48 triliun. Program ini telah melibatkan 270 pelaku ekspor yang menembus lebih dari 90 pasar tujuan, serta mendukung lebih dari 30 komoditas unggulan. Lima komoditas dengan porsi penyaluran terbesar meliputi:
- Makanan olahan
- Minyak nabati
- Produk semen
- Furnitur
- Tekstil dan produk tekstil
Pencapaian tersebut mencerminkan dominasi sektor manufaktur dan hilirisasi dalam struktur ekspor Indonesia.
Inovasi Penjaminan dan Asuransi
Pada November 2025, LPEI memperkenalkan skema penjaminan dan asuransi yang terintegrasi dengan PKE. Skema ini mencakup bank garansi, penjaminan kredit, serta trade credit insurance yang melindungi eksportir dari risiko gagal bayar pembeli di luar negeri. “Kami ingin memberikan layanan end‑to‑end, bukan hanya pembiayaan tetapi juga perlindungan risiko,” ujar Sulaeman.
Studi Kasus: PT Mega Global Food Industry
Salah satu penerima manfaat paling menonjol adalah PT Mega Global Food Industry yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur. Didirikan pada tahun 2010, perusahaan ini bergerak di bidang makanan ringan, khususnya biskuit dan wafer, dan mempekerjakan lebih dari 1.000 tenaga kerja, dengan proporsi perempuan mencapai 75 persen.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahadi, menjelaskan tantangan utama dalam menembus pasar ekspor adalah menjaga standar kualitas internasional. Ia menambahkan, “Fasilitas pembiayaan pre‑shipment dan post‑shipment dari PKE memungkinkan kami memperoleh dana sejak menerima pesanan hingga setelah barang dikirim, sehingga meningkatkan daya saing kami.”
Produk perusahaan kini telah dipasarkan ke lebih dari 55 negara, dengan fokus utama pada Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina, serta menembus pasar Dubai, India, dan Thailand. Menurut Richard, skema penjaminan dan asuransi yang baru diperkenalkan juga memberikan rasa aman ketika memasuki pasar dengan risiko pembayaran yang lebih tinggi.
Perubahan geopolitik dan dinamika perdagangan global membuka peluang baru bagi industri makanan Indonesia. Eksportir melihat potensi peningkatan permintaan, terutama setelah adanya penyesuaian tarif di Amerika Serikat yang membuka ruang bagi produk Indonesia.
Secara keseluruhan, pencapaian penyaluran PKE yang kuat di Jawa Timur memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok global, sekaligus menyiapkan dasar yang lebih kokoh untuk pertumbuhan ekspor di tahun‑tahun mendatang.


Komentar