Media Pendidikan – 03 April 2026 | Jawa Tengah, 3 April 2026 – Pemerintah menguatkan arah perubahan kurikulum pendidikan nasional tahun 2026 dengan mengintegrasikan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai instrumen penilaian utama bagi siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kebijakan ini menandai upaya menyesuaikan standar pembelajaran agar lebih menekankan pada logika, kritis, dan aplikasi nyata, sesuai dengan harapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti serta Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq.
Simulasi TKA Digencarkan di Sekolah
Menjelang pelaksanaan TKA 2026, Wamendikdasmen menekankan pentingnya simulasi sebagai langkah persiapan. Pada kunjungan ke Kabupaten Karangasem, Bali, Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa simulasi dapat mengasah logika siswa dan meningkatkan familiaritas dengan model soal. “Simulasi itu penting. Ada soal‑soal matematika yang logika, trik‑trik mengerjakan soal. Kalau sudah hafal model soal, akan tahu cara mengerjakannya,” ujarnya pada 2 April 2026.
Fajar juga menekankan bahwa TKA bukan sekadar penentu kelulusan, melainkan alat verifikasi capaian pembelajaran yang tercermin dalam rapor. Hal ini diharapkan meredam tekanan pada siswa sekaligus memberi gambaran yang lebih objektif tentang kompetensi akademik mereka.
Detail Pelaksanaan TKA SMP Sederajat
Menurut akun Instagram resmi @litbangdikbud, TKA SMP sederajat akan dilaksanakan mulai 6 hingga 16 April 2026. Setiap peserta akan mengerjakan 30 soal, terbagi rata antara Matematika dan Bahasa Indonesia, dengan 15 soal berfokus pada penguatan literasi dan numerasi. Soal‑soal tersebut disusun 70% oleh pemerintah pusat dan 30% oleh lembaga daerah, mencerminkan keseimbangan antara standar nasional dan konteks lokal.
Waktu pengerjaan ditetapkan 75 menit, diikuti dengan survei karakter dan survei lingkungan belajar masing‑masing 20 menit. Mekanisme ini dirancang untuk memberikan gambaran holistik tentang kemampuan kognitif dan non‑kognitif siswa.
Kesiapan Infrastruktur Sekolah
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pelaksanaan TKA tetap memungkinkan bagi sekolah yang belum memiliki komputer. “Sekolah‑sekolah yang tidak atau belum punya komputer kita atur sedemikian rupa supaya bisa pinjam di sekolah lain yang tidak menyelenggarakan TKA,” jelasnya pada 1 April 2026. Kebijakan ini mencerminkan pendekatan inklusif dalam perubahan kurikulum, memastikan semua sekolah dapat berpartisipasi tanpa mengorbankan kualitas penilaian.
Implikasi Terhadap Kurikulum Nasional
Pengenalan TKA sebagai bagian integral kurikulum 2026 menandakan pergeseran paradigma dari penilaian berbasis hafalan ke penilaian yang menilai kemampuan berpikir kritis, logis, dan aplikatif. Pemerintah menargetkan agar hasil TKA dapat menjadi salah satu indikator dalam seleksi jalur prestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, sekaligus menjadi bukti bahwa capaian pembelajaran telah tercapai sesuai standar kurikulum baru.
Dengan fokus pada simulasi, penyesuaian soal, dan fleksibilitas infrastruktur, perubahan kurikulum 2026 diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di seluruh jenjang, terutama SD dan SMP, serta menyiapkan siswa menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Implementasi TKA 2026 menjadi langkah konkret dalam transformasi pendidikan, menegaskan komitmen pemerintah untuk menciptakan sistem belajar yang lebih relevan, adil, dan berbasis kompetensi.


Komentar