Media Pendidikan – 10 April 2026 | Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, dalam rapat internal komisi pada pekan lalu menuntut Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membatalkan pengadaan motor listrik yang direncanakan akan digunakan oleh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Permintaan tersebut disampaikan dengan alasan utama efisiensi penggunaan anggaran negara serta menghindari potensi pemborosan pada program gizi nasional.
Alasan Permintaan Efisiensi
Charles Honoris menekankan bahwa alokasi dana publik harus diprioritaskan pada program yang memberikan dampak langsung terhadap peningkatan gizi masyarakat, terutama pada daerah‑daerah dengan tingkat kerawanan gizi tinggi. Menurutnya, pengadaan motor listrik dengan biaya yang signifikan belum terbukti memberikan kontribusi substantif terhadap peningkatan layanan SPPG. Oleh karena itu, komisi menganggap langkah pembatalan ini sebagai upaya preventif untuk menghindari alokasi anggaran yang tidak optimal.
Rincian Pengadaan yang Dipertanyakan
Pengadaan motor listrik tersebut direncanakan dengan total nilai mendekati puluhan miliar rupiah. Kendaraan listrik diproyeksikan akan dipakai oleh kepala unit SPPG untuk mobilitas antar‑wilayah dalam rangka koordinasi program gizi. Namun, pihak Komisi IX mengidentifikasi bahwa sebagian besar tugas kepala SPPG dapat diselesaikan dengan transportasi konvensional yang lebih murah, serta bahwa jaringan listrik di banyak wilayah masih belum mendukung infrastruktur kendaraan listrik secara luas.
Tanggapan Badan Gizi Nasional
Setelah menerima surat resmi dari Komisi IX, BGN menyatakan akan meninjau kembali rencana tersebut. Pihak BGN mengakui pentingnya pengawasan anggaran, namun tetap menegaskan bahwa motor listrik dipilih berdasarkan pertimbangan ramah lingkungan dan potensi penghematan biaya operasional jangka panjang. BGN berjanji akan menyampaikan hasil evaluasi dalam waktu dua minggu ke depan.
Implikasi Kebijakan terhadap Program Gizi
Jika keputusan pembatalan disetujui, dana yang dialokasikan untuk motor listrik dapat dialihkan ke program lain, seperti peningkatan fasilitas penyimpanan makanan bergizi, pelatihan kader gizi, atau distribusi suplemen makanan di daerah terpencil. Para analis kebijakan menilai bahwa alokasi ulang dana ini dapat meningkatkan efektivitas intervensi gizi, khususnya pada wilayah dengan tingkat stunting dan wasting yang masih tinggi.
Di sisi lain, pendukung penggunaan motor listrik berargumen bahwa investasi pada teknologi bersih sejalan dengan komitmen pemerintah menuju netralitas karbon. Mereka menyatakan bahwa penggunaan kendaraan listrik di sektor publik dapat menjadi contoh bagi sektor swasta dan mempercepat transisi energi nasional.
Sejauh ini, belum ada keputusan final yang diumumkan oleh BGN. Namun, tekanan dari Komisi IX DPR menunjukkan meningkatnya kewaspadaan legislatif terhadap setiap pengeluaran yang dianggap tidak prioritas. Pengawasan semacam ini diharapkan dapat menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik.
Ke depannya, proses evaluasi akan melibatkan auditor independen serta konsultasi dengan ahli transportasi dan energi. Hasil akhir akan menjadi acuan bagi kementerian terkait dalam menentukan kebijakan pengadaan barang dan jasa yang selaras dengan tujuan efisiensi anggaran serta keberlanjutan lingkungan.


Komentar