Gaya Hidup
Beranda » Berita » Kisah Inspiratif Aipda Purnomo: Dari Penjual Soto Hingga Polisi yang Rawat Ratusan ODGJ

Kisah Inspiratif Aipda Purnomo: Dari Penjual Soto Hingga Polisi yang Rawat Ratusan ODGJ

Kisah Inspiratif Aipda Purnomo: Dari Penjual Soto Hingga Polisi yang Rawat Ratusan ODGJ
Kisah Inspiratif Aipda Purnomo: Dari Penjual Soto Hingga Polisi yang Rawat Ratusan ODGJ

Media Pendidikan – 26 April 2026 | Surabaya – Di balik seragam cokelat yang gagah, tersimpan kisah getir tentang kemiskinan, utang, dan perjuangan hidup dari nol. Aipda Purnomo, yang akrab disapa ‘Polisi Belajar Baik’, memulai hidupnya dengan berjualan soto keliling untuk membantu keluarga yang terpuruk. Kini, ia menjadi anggota kepolisian yang dikenal karena dedikasinya merawat ratusan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah Jawa Timur.

Sejak kecil, Aipda tumbuh dalam lingkungan yang serba terbatas. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Karena keterbatasan ekonomi, Aipda terpaksa membantu menghidupi keluarga dengan menjual soto di pinggir jalan sejak remaja. “Saya dulu jual soto untuk menafkahi keluarga, kini saya berusaha memberi harapan bagi mereka yang terganggu jiwa,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang menggugah hati.

Baca juga:

Kesempatan berubah ketika Aipda berhasil lolos seleksi masuk Polri. Proses pelatihan menuntut disiplin tinggi, namun semangatnya yang kuat membuatnya berhasil menamatkan pendidikan kepolisian dengan nilai memuaskan. Setelah resmi menjadi polisi, ia ditempatkan di satuan khusus yang menangani kasus ODGJ, sebuah bidang yang sebelumnya jarang mendapat sorotan publik.

Penugasan tersebut menuntut Aipda tidak hanya mengamankan lingkungan, tetapi juga memberikan pendekatan humanis kepada para penderita gangguan jiwa. Ia bersama tim mengelola panti rehabilitasi, melakukan kunjungan rutin ke rumah-rumah sakit jiwa, serta mengkoordinasikan program pelatihan keterampilan bagi para ODGJ agar dapat kembali mandiri. Hingga kini, Aipda dan rekan-rekannya telah merawat lebih dari tiga ratus ODGJ, membantu mereka mendapatkan perawatan medis dan dukungan sosial.

Keberhasilan Aipda tidak lepas dari dukungan komunitas lokal. Masyarakat Surabaya memberikan sumbangan makanan, pakaian, dan fasilitas pendidikan bagi para penghuni panti. Selain itu, pemerintah daerah menyalurkan dana tambahan untuk perbaikan infrastruktur panti, sehingga kondisi hidup para ODGJ menjadi lebih layak. Aipda menegaskan pentingnya sinergi antara aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang inklusif.

Baca juga:

Di tengah tugas beratnya, Aipda tetap menyisihkan waktu untuk mengingat asal usulnya. Setiap kali ada kesempatan, ia kembali ke pasar tempat dulu ia menjual soto, sekaligus memberi motivasi kepada pedagang kecil agar tidak menyerah pada tantangan ekonomi. “Pengalaman saya di lapangan jualan mengajarkan nilai kerja keras dan kebersamaan,” katanya.

Berita tentang dedikasi Aipda menyebar luas melalui media sosial, menjadikannya simbol kepolisian yang tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga peduli pada kesejahteraan mental warga. Penghargaan kepolisian tingkat provinsi pun diberikan kepadanya sebagai pengakuan atas kontribusi sosial yang signifikan.

Ke depan, Aipda berencana memperluas program pelatihan keterampilan bagi ODGJ, termasuk kursus komputer dasar dan kerajinan tangan, dengan harapan dapat membuka peluang kerja bagi mereka setelah selesai rehabilitasi. Ia juga mengajak lebih banyak relawan untuk bergabung dalam upaya penanganan ODGJ, menekankan bahwa perubahan tidak dapat dicapai sendiri.

Baca juga:

Dengan perjalanan yang menginspirasi dari penjual soto hingga polisi yang merawat ratusan ODGJ, Aipda Purnomo membuktikan bahwa tekad, kerja keras, dan kepedulian dapat mengubah nasib tidak hanya diri sendiri, tetapi juga banyak orang di sekitarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *