Media Pendidikan – 08 Juni 2026 | RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Yayasan Batik Indonesia (YBI) berkomitmen untuk meningkatkan daya saing industri batik Indonesia melalui penerapan efisiensi produksi. Langkah tersebut diharapkan membantu pelaku usaha menghadapi biaya produksi dan memperkuat posisi batik di pasar global.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa industri batik merupakan subsektor yang konsisten menunjukkan kinerja positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai USD 30,62 juta, tumbuh 13,03 persen.
‘Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa batik Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global. Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem industri batik melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan daya saing produk,’ kata Agus.
Agus menambahkan bahwa pemerintah membuka akses pasar baru bagi industri batik melalui ekosistem haji dan umrah. Langkah tersebut diharapkan memperluas pasar industri batik nasional, khususnya yang telah memiliki sertifikasi Batikmark.
Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), Reni Yanita, menyatakan bahwa meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap batik menjadi peluang besar bagi IKM. Menurutnya, generasi muda turut mendorong perkembangan IKM batik melalui meningkatnya minat terhadap produk batik.
‘Batik kini tidak hanya dikenakan dalam acara formal atau tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari. Tren ini menjadi momentum yang sangat baik bagi IKM batik untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas jangkauan pasar,’ ujar Reni.
Reni juga mengingatkan bahwa industri batik masih menghadapi tantangan maraknya produk tekstil bermotif batik hasil printing. Produk tersebut kerap dianggap batik oleh konsumen meski tidak dibuat menggunakan lilin atau malam.
Kemenperin dan YBI menggelar Bimbingan Teknis Efisiensi Produksi IKM Batik di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 19-22 Mei 2026. Peserta mendapat pelatihan efisiensi produksi, termasuk pemanfaatan kembali lilin batik bekas dan pembuatan cap batik berbahan kertas.
‘Lilin batik bekas yang diolah kembali dapat mengurangi konsumsi bahan baku dan menekan biaya produksi. Sementara itu, cap batik berbahan kertas lebih ekonomis, mudah dibuat, dan dapat menjadi alternatif yang efektif dibandingkan cap berbahan logam,’ ujar Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan.


Komentar