Media Pendidikan – 02 Mei 2026 | Gubernur Jawa Timur dan sejumlah pejabat BUMN meresmikan peletakan batu pertama dua proyek strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik pada Rabu (29/4/2026). Proyek tersebut meliputi fasilitas produksi brass mill dan brass cup serta pabrik manufaktur emas logam mulia, yang ditujukan menjadi pusat hilirisasi terintegrasi untuk komoditas emas dan tembaga di Asia Tenggara.
Skema kerja sama melibatkan Holding BUMN pertambangan MIND ID, Holding BUMN pertahanan DEFEND ID, serta PT Pelindo (Persero). Katoda tembaga yang dihasilkan dari smelter akan diproses menjadi copper rod, copper foil, dan selanjutnya brass cup dengan kapasitas 10.000 ton per tahun, yang menjadi bahan baku utama untuk peluru amunisi TNI. Sementara Antam akan mengolah logam mulia menjadi emas batangan (bullion) untuk memperkuat rantai pasok domestik.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa pengembangan industri derivatif di Gresik dapat menjadi motor penggerak baru bagi struktur ekonomi daerah. Ia mengatakan, “Kita sudah bergeser ke arah industri derivatif. Katoda tembaga yang dihasilkan smelter kini diolah menjadi brass cup oleh Pindad untuk kebutuhan amunisi. Jadi, peluru yang biasanya diimpor untuk kebutuhan TNI, ke depan akan diproduksi di dalam negeri menggunakan bahan baku lokal,”.
Secara sosial‑ekonomi, KEK Gresik berada di jantung aglomerasi Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) yang menyumbang hampir separuh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur. Mengingat Jawa Timur menyumbang satu per enam ekonomi nasional, perputaran ekonomi di kawasan tersebut mendekati 10 % dari total PDB Indonesia.
Emil juga menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran operasional KEK. Ia menggarisbawahi rencana pelebaran akses jalan tol dan pembenahan jembatan di sekitar kawasan, sehingga logistik bahan baku dan produk jadi dapat bergerak lebih cepat dan efisien.
Dengan status multi‑commodity hub, KEK Gresik tidak lagi menjadi zona satu komoditas melainkan pusat produksi berjenjang mulai dari bahan mentah hingga produk akhir, termasuk amunisi pertahanan. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global dan menambah kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.


Komentar