Media Pendidikan – 22 April 2026 | Johannes van Rijckevorsel, S.J., yang dikenal sebagai salah satu pendiri Perkumpulan Strada, tetap dikenang meski namanya tak terukir di batu nisan. Lahir di Belanda dan tiba di tanah Indonesia pada awal abad ke‑20, ia mengabdikan diri pada pendidikan dan perjuangan kebangsaan tanpa mengharapkan pujian.
Setibanya di Indonesia, ia tidak sekadar “datang”. Seperti yang tercatat dalam dokumen Strada, ia “tiba, lalu diam, lalu mendengar” suara tanah yang keras, doa petani, dan harapan anak‑anak tanpa alas kaki. Dari situ, ia memutuskan untuk menanamkan nilai‑nilai pendidikan yang bersifat inklusif, menganggapnya sebagai jalur setapak yang mengarahkan manusia kembali pada jati dirinya.
Melalui kerja keras di lingkungan sederhana, van Rijckevorsel bersama rekan‑rekannya mendirikan Perkumpulan Strada, sebuah lembaga yang kemudian menjadi ladang benih‑benih kesadaran sosial. Pada Kongres Pemuda 1928, meski tidak menjadi sorotan utama, kehadirannya terasa sebagai keheningan yang mendukung semangat persatuan. Konferensi tersebut menjadi titik penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia, memperkuat jaringan perjuangan yang melibatkan tokoh‑tokoh lokal.
Van Rijckevorsel menolak posisi unggul; ia memilih duduk di tanah yang sama dengan rakyat, merasakan debu, dan bila diperlukan, meneteskan air mata bersama mereka. Pendekatannya yang bersahaja menjadikan kontribusinya tidak terlihat di monumen atau buku teks, namun tetap hidup dalam praktik pendidikan di wilayah‑wilayah yang dilayaninya.
Data arsip Strada menunjukkan bahwa pada tahun 1930‑saat itu, lebih dari 200 pelajar dari desa‑desa sekitarnya telah menerima beasiswa belajar membaca dan menulis melalui program yang dirintisnya. Angka tersebut meningkat menjadi 350 pada akhir 1935, menandakan dampak signifikan terhadap tingkat melek huruf di daerah tersebut.
“Saya bukanlah orang yang datang untuk memerintah, melainkan untuk belajar bersama,” ujar van Rijckevorsel dalam satu catatan pribadi yang kemudian dijadikan pedoman bagi para pengurus Strada.
Walaupun tidak ada batu nisan yang menonjolkan namanya, tanah Indonesia menyimpan jejak langkah, peluh, dan doa‑doa yang ia rangkul. Seperti yang diungkapkan oleh seorang guru yang pernah bekerja bersamanya, “Keberadaannya terasa dalam setiap kelas yang terbuka, meski namanya tidak disebutkan dalam buku sejarah.”
Hingga kini, Perkumpulan Strada masih melanjutkan visi sang pendiri, dengan jaringan sekolah yang tersebar di beberapa provinsi. Upaya pelestarian warisan ini menjadi bukti bahwa seorang asing yang menolak sorotan tetap dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwa bangsa.


Komentar