Media Pendidikan – 05 Juni 2026 | Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) untuk anak-anak Indonesia sepertinya memiliki tujuan mulia, tetapi dalam 17 bulan perjalanannya, program senilai ratusan triliun rupiah ini menorehkan catatan yang tidak bisa kita abaikan. Puluhan ribu anak keracunan, dapur-dapur yang belum dibayar, motor listrik triliunan rupiah nongkrong di gudang, dan yang terbaru, kepala lembaga digiring pakai rompi pink Kejagung.
Pada 6 Januari 2025, MBG secara resmi diluncurkan dengan target besar: 82,9 juta penerima manfaat dari anak PAUD sampai SMA, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. Anggarannya sebesar Rp 71 triliun untuk fase pertama sampai Juni 2025. Namun, untuk program penuh satu tahun, Menko Pangan Zulhas menyebut butuh sampai Rp 420 triliun. Dan di APBN 2026, anggaran MBG sudah melonjak jadi Rp 335 triliun.
Di atas kertas, ini progres yang signifikan. Namun, di balik angka-angka itu, ada cerita lain yang jauh lebih kompleks. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, lebih dari 20.000 kasus keracunan dilaporkan terjadi dari program MBG.
Beberapa kasus keracunan bahkan disebabkan oleh daftar belanja BGN yang membuat publik geleng-geleng kepala. Seperti contoh motor listrik. BGN membeli 21.801 unit sepeda motor listrik merek Emmo seharga Rp43 juta per unit dengan total anggaran Rp1,035 triliun. Masalahnya, motor Emmo ini disebut-sebut mirip dengan produk yang dijual di ecommerce seharga sepersepuluh harganya.
Sebelumnya, pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN bersama dua Wakil Kepala BGN lainnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya. Namun, itu hanya awal dari peristiwa dramatis ini. Pada 3 Juni 2026, penyidik Kejagung menggeledah kantor BGN. Dan sore hari pukul 17.12 WIB, Dadan Hindayana berjalan keluar gedung Jampidsus mengenakan rompi pink khas tahanan Kejaksaan Agung.
Kenapa bisa? Program yang dirancang begitu idealis ini ternyata offside saat pelaksanaan. Siapa salah? Kami akan mencoba menjelaskannya dalam video ini.


Komentar