Pendidikan
Beranda » Berita » Inisiatif Warga Serang di Kampung Pekijing Reduksi Kecanduan Gadget pada Anak

Inisiatif Warga Serang di Kampung Pekijing Reduksi Kecanduan Gadget pada Anak

Inisiatif Warga Serang di Kampung Pekijing Reduksi Kecanduan Gadget pada Anak
Inisiatif Warga Serang di Kampung Pekijing Reduksi Kecanduan Gadget pada Anak

Media Pendidikan – 05 April 2026 | Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak berlebihnya penggunaan gadget pada generasi muda, warga Serang memperlihatkan contoh nyata dengan menggerakkan program komunitas di Kampung Pekijing. Pendekatan mereka mengedepankan aktivitas membaca dan permainan tradisional sebagai alternatif yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga edukatif. Langkah ini berhasil menurunkan ketergantungan anak-anak pada perangkat elektronik, sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya lokal.

Masalah kecanduan gadget di kalangan anak-anak tidak hanya terbatas pada gangguan konsentrasi, melainkan juga berdampak pada kesehatan fisik, mental, serta kemampuan sosial. Menyadari fenomena ini, tokoh masyarakat dan orang tua di Kampung Pekijing bersama Lembaga Pengembangan Masyarakat (LPM) menginisiasi program “Baca & Bermain Tradisional”. Program tersebut dirancang sebagai rangkaian kegiatan terjadwal yang mengintegrasikan literasi, seni, serta kearifan lokal dalam satu paket.

Baca juga:

Strategi utama program meliputi tiga pilar:

  • Pembacaan Buku: Setiap sore, anak-anak berkumpul di balai desa untuk membaca buku cerita, buku pengetahuan, dan buku sejarah daerah. Relawan mengatur sesi membaca bergantian, memberi kesempatan bagi setiap peserta untuk berbagi pendapat dan menumbuhkan minat baca.
  • Permainan Tradisional: Setelah sesi membaca, anak-anak diajak berpartisipasi dalam permainan tradisional seperti engklek, lompat tali, congklak, dan gasing. Kegiatan ini tidak hanya melatih koordinasi fisik, tetapi juga memperkenalkan nilai sportivitas dan kerjasama.
  • Pendidikan Orang Tua: Orang tua diberikan workshop singkat tentang manajemen waktu penggunaan gadget, pentingnya pengawasan, serta cara menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah.

Implementasi program dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, tim panitia melakukan survei kebutuhan dengan mengumpulkan data tentang durasi penggunaan gadget anak-anak di rumah. Data menunjukkan rata-rata penggunaan gadget mencapai tiga hingga empat jam per hari, dengan puncak pada jam sore menjelang makan malam.

Setelah memperoleh data, tim menyusun jadwal harian yang menyeimbangkan antara kegiatan belajar, bermain, dan istirahat. Jadwal tersebut dipublikasikan di papan pengumuman kampung dan disebarkan melalui grup WhatsApp warga. Penekanan pada konsistensi menjadi kunci; setiap hari Minggu, seluruh keluarga diundang untuk ikut serta dalam acara bersama, sehingga tercipta iklim kebersamaan yang kuat.

Baca juga:

Hasil awal yang terukur muncul dalam tiga minggu pertama pelaksanaan. Menurut catatan pendamping program, tingkat penggunaan gadget pada anak-anak menurun rata-rata 30 persen, sementara frekuensi membaca buku meningkat dua kali lipat. Selain itu, observasi menunjukkan peningkatan interaksi sosial antar anak, dengan lebih banyak yang terlibat dalam dialog kreatif selama permainan.

Keberhasilan program tidak lepas dari peran aktif tokoh lokal. Kepala Desa Serang, Bapak Ahmad Syarif, secara rutin mengunjungi lokasi kegiatan, memberikan motivasi, dan memastikan ketersediaan sarana. Sementara itu, LPM menyediakan buku-buku dari perpustakaan daerah serta peralatan permainan tradisional yang sebelumnya sudah jarang dipakai.

Pengalaman Kampung Pekijing kini menjadi contoh yang diharapkan dapat diadopsi oleh lingkungan lain. Beberapa desa di sekitarnya sudah mengirimkan delegasi untuk belajar mengenai model pelaksanaan, prosedur pendaftaran peserta, serta cara mengelola dana operasional yang bersumber dari sumbangan warga dan sponsor lokal.

Baca juga:

Selain menurunkan ketergantungan pada gadget, inisiatif ini juga menumbuhkan rasa kebanggaan akan budaya Indonesia. Anak-anak yang dulu hanya mengenal dunia digital kini dapat merasakan sensasi bermain gasing yang berputar cepat, atau menguasai strategi dalam congklak. Aktivitas ini menumbuhkan identitas lokal serta menegaskan pentingnya pelestarian tradisi di era modern.

Namun, tantangan tetap ada. Beberapa keluarga masih menghadapi kendala ekonomi yang menyulitkan mereka untuk menyediakan buku atau peralatan bermain yang memadai. Untuk mengatasi hal ini, panitia berencana mengadakan program donasi buku bekas serta menggalang sponsor dari perusahaan lokal yang bersedia menyediakan perlengkapan permainan.

Secara keseluruhan, upaya warga Serang di Kampung Pekijing menegaskan bahwa solusi terhadap kecanduan gadget tidak harus bergantung pada teknologi tinggi atau kebijakan pemerintah semata. Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada—seperti buku, ruang publik, dan budaya tradisional—masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Keberhasilan ini menginspirasi harapan bahwa pendekatan serupa dapat diterapkan di wilayah lain, menjadikan generasi mendatang lebih seimbang antara dunia digital dan dunia nyata.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *