Ekonomi
Beranda » Berita » Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Lihat Peluang Baru di Pasar Energi

Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Lihat Peluang Baru di Pasar Energi

Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Lihat Peluang Baru di Pasar Energi
Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Lihat Peluang Baru di Pasar Energi

Media Pendidikan – 19 April 2026 | Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada hari Selasa, dipicu oleh gangguan pasokan di Timur Tengah. Kenaikan tersebut menimbulkan keraguan di kalangan sekutu Amerika Serikat, sementara Beijing menganggap situasi sebagai peluang strategis untuk memperluas pengaruhnya di pasar energi global.

Latar Belakang Kenaikan Harga

“Kenaikan harga minyak menimbulkan kekhawatiran di antara sekutu kami,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Samantha Power, dalam konferensi pers di Washington. Power menambahkan bahwa Amerika Serikat sedang memantau situasi secara intensif dan mempertimbangkan langkah diplomatik untuk menstabilkan pasar.

Baca juga:

Reaksi Sekutu Amerika Serikat

Negara-negara sekutu utama AS, termasuk Inggris, Jepang, dan Australia, menyatakan keprihatinan mereka atas volatilitas harga yang dapat memperberat beban ekonomi domestik. Menteri Keuangan Inggris, Jeremy Hunt, menyebutkan bahwa peningkatan biaya energi dapat memperlambat pemulihan ekonomi pascapandemi dan menambah tekanan inflasi.

Di Jepang, Menteri Ekonomi, Trade, dan Industri, Hiroshi Kajiyama, menekankan perlunya diversifikasi sumber energi dan mempercepat transisi ke energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada minyak impor.

Strategi Beijing dalam Menghadapi Krisis

Berbeda dengan sekutu AS, Pemerintah China melihat gejolak pasar sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi tawar dalam perdagangan energi. Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, menyatakan bahwa China akan meningkatkan pembelian minyak dari produsen non‑Timur Tengah, termasuk Rusia dan Amerika Selatan, untuk menstabilkan pasokan domestik.

Baca juga:

Analisis lembaga riset energi, Wood Mackenzie, memperkirakan bahwa dalam enam bulan ke depan, China dapat meningkatkan impor minyak sebesar 5% hingga 7% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, memanfaatkan harga yang lebih tinggi untuk menegosiasikan kontrak jangka panjang dengan produsen utama.

Dampak terhadap Pasar Global

Lonjakan harga minyak tidak hanya memengaruhi negara-negara konsumen, tetapi juga menimbulkan tekanan pada perusahaan energi multinasional. Saham perusahaan seperti ExxonMobil dan Chevron mengalami penurunan karena kekhawatiran tentang potensi penurunan permintaan akibat harga yang lebih tinggi.

Selain itu, indeks energi S&P GSCI turun 2,3% pada sesi perdagangan terakhir, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan.

Baca juga:

Secara keseluruhan, situasi ini menegaskan kembali betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika politik regional, sekaligus membuka ruang bagi negara-negara seperti China untuk memanfaatkan peluang strategis dalam mengamankan pasokan dan memperluas pengaruh ekonomi mereka.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *